REVIEW FILM: The Salesman (2016)

, , No Comments
"It's just the first 100 years that are tough."

REVIEW:

Apa yang kamu rasakan saat salah satu orang yang kamu cintai disakiti dan dianiaya oleh orang misterius dan tidak dikenal. Dan saat kamu ingin mengejar pelaku tersebut orang yang kamu cintai malah melarangmu melakukannya? Inilah yang terjadi pada seorang pria bernama Emad Etesami (Shahab Hosseini) yang baru saja pindah apartement bersama istrinya Rana Etesami (Taraneh Alidoosti). Emad dan Rana berprofesi sebagai seniman artist drama yang sedang menyiapkan pementasan panggung "Death of a Salesman". Selain sebagai seniman Emad juga berprofesi sebagai seorang guru sekolah. Pada suatu hari hal yang tidak diinginkan terjadi pada Rana yang tengah berada dirumah sendirian menunggu kepulangan suaminya bekerja. Emad yang baru saja tiba kerumah terkejut mendapati pintu apartementnya terbuka dan melihat darah berceceran di kamar mandi miliknya. Hingga akhirnya ia mendapat kabar bahwa Rana telah masuk UGD rumah sakit karena mengalami penyerangan oleh orang misterius yang diduga adalah wanita pemilik kamar apartement yang sebelumnya pernah tinggal di tempat mereka yang baru.


Setelah sukses mengganyang piala Oscar tahun 2011 lalu melalui "A Separation". Ini adalah kedua kalinya bagi Asghar Farhadi melalui film ke-7 nya The Salesman (Forushande) membawa negara Iran memenangkan kembali Oscar keduanya untuk kategori Best Foreign Language Film of the Year setelah mengalahkan kandidat negara lainnya, Land of Mine (Denmark), A Man Called Ove (Sweden), Tanna (Australia), dan Toni Erdman (Germany). Dan juga hampir ketujuh film Farhadi pun sangat di sukai oleh para kritikus dengan memperoleh score diatas 90% di rottentomatoes. Meski saya sendiri cuma sempat menonton film A Separation, tapi menurut saya film ini punya plot yang sangat masterpiece! membuat emosi saya teraduk sekaligus adanya chronological suspense yang cukup mengejutkan tentang kisah perceraian yang konteksnya justru jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.



The Salesman bukan tipikal film drama pertikaian atau konflik personal seperti yang terjadi pada A Separation. Film ini justru memperlihatkan hubungan normal dan harmonis antara Emad dan Rana. Paruh awal cerita memang cukup panjang dan melelahkan hanya untuk mengenalkan kita pada sekelumit kehidupan dan migrasi Emad dan Rana ke tempat hunian baru. Tapi syukurnya setiap scene yang digarap oleh sinematografer Hossein Jafarian dihasilkan dengan pergerakan gambar yang solid dan seirama dengan perpaduan sinematografi yang artistik menangkap setiap moment yang ada. Alhasil, meski gambar yang dihasilkan hanyalah beberapa sudut apartement (bahkan tembok dan kamar yang acapkali berantakan sekalipun) ataupun set dekorasi drama panggung dengan lampu ligthing namun sangat terasa precious.


Hingga 30 menit kemudian peristiwa utama terjadi. Rana yang telah terbaring dengan luka dan jahitan cukup serius di bagian kepala. Emosi kemarahan dan kesedihan mulai merembes perlahan melukai hati sang suami Emad. Siapa yang tak marah dan geram melihat orang yang kita cintai dianiaya oleh seseorang tanpa tanggung jawab dan bersembunyi dari kesalahan? Emad yang notabene sosok ramah dan rendah hati bahkan dicintai baik oleh istrinya sendiri bahkan para muridnya disekolah tampak tak mampu menyembunyikan rasa amarah, kebingungan dan kesedihan luar biasa tersimpan dalam benaknya, meski menyadari bahwa ia tetap mencoba tenang dan sabar namun satu sisi juga menyulitkan dirinya akan sesuatu yang disembunyikan istrinya terasa menggalaukan. Bagian menariknya pun datang dari sosok korban alias sang istri Rana yang justru berbalik berdiam diri menolak memberitahukan apa yang terjadi untuk mencoba merahasiakan sesuatu. Membuat sebuah tanda tanya besar yang bukan saja membuat kita bertanya soal siapa dan apa motif pelaku penyerangan namun juga membuat kita turut bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya tengah terjadi menjadi sesuatu yang terus membawa kita merasakan rasa penasaran yang tinggi hingga akhir cerita.


Disini saya semakin yakin akan kepintaran Asghar Farhadi meramu narasi sederhana tentang sebuah tindakan persekusi menjadi sajian kompleks berbalut drama suspense yang sulit untuk ditebak. Bahkan melibatkan substansi dan emosi yang mampu kita rasakan pada tiap-tiap karakter membuat kita mencoba mengerti akan perasaan, sikap dan perilaku yang dilakukan oleh para tokoh. Dan itu di seimbangkan tidak hanya apa yang dirasakan oleh Emad bagaimana sakit hatinya, kemarahan dan rasa benci, tapi juga disulurkan dengan perasaan bimbang, rasa mencintai, serta penasaran oleh perilaku sang istri. Demikian pula bagaimana sudut pandang yang dirasakan oleh Rana, mencoba menerka dari setiap tatapannya yang tampak muram merahasiakan sesuatu, tapi juga tampak dipenuhi rasa trauma bercampur cemas dan derita yang mendalam pasca kejadian yang menimpanya. Hingga konklusi yang dihadirkan oleh Asghar pun terasa menghanyutkan, memicu kebimbangan dan kerancuan bagaimana hasrat kebencian dipaksa oleh sisi empati akan tragedi moral yang hadir provokatif yang satu sama lain saling meletup menghadirkan gejolak batin penuh kekacauan dalam hening. Hingga akhirnya The Salesman berhasil menyiksamu di akhir cerita.

🎥 Director | Asghar Farhadi
🎥 Writer | Asghar Farhadi
🎥 Cast | Taraneh Alidoosti, Shahab Hosseini, Babak Karimi
🎥 Studio | Cohen Media Group
🎥 Rating | PG-13 (Mature thematic elements and a brief bloody image)
🎥 Runtime | 124 minutes (2h 4min)



OFFICIAL RATING | THE SALESMAN (2016)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes

0 komentar:

Post a Comment