LEMONVIE


Berbicara tentang Korea Selatan, negara ini punya ambisi serius dalam menghasilkan beragam genre film yang dicap mampu bersaing dengan blockbuster Hollywood. Ketika film teranyar mereka "Train to Busan" kerap dianggap lebih baik dari versi Amerikanya "World War Z". Lain pula "The Handmaiden" menjadi film pertama yang berani menyinggung isu LGBT secara kontroversi pun mampu meraih beragam pujian dimata kritikus luar. Korea Selatan memang punya segudang akal untuk tidak menyia-nyiakan ide film mereka menjadi sajian yang tidak setengah hati. The Age of Shadows pun berusaha membuktikan kepada Studio besar Warner Bros bahwa negeri ginseng tidak akan berakhir mengecewakan, bahkan buat saya film ini cukup pantas menjadi daftar nominator Oscar Tahun 2017 lalu.

The Age of Shadows atau sebelumnya diberi judul Secret Agent, bukan lagi film bergenre horror psychic seperti "The Tale of Two Sister" atau juga asian western "The Good The Bad The Weird". Kim Jee-woon mengajak kita kembali masa ke tahun 1920-an saat negara Korea tengah dalam kondisi pendudukan kekuasaan Jepang. Film ini adalah cerita fiksi yang mentengahkan perjuangan para pemberontak Korea yang dipimpin oleh Jung Chae-San (Lee Byung-hun) dan kaki tangannya Kim Woo-Jin (Gong Yoo) berencana membawa bahan peledak dari Shanghai ke Seoul tempat fasilitas pusat pemerintahan Jepang berada. Tapi rencana tersebut terhalang oleh kepala polisi berdarah "Hyeong" (Sebutan orang Jepang kepada Korea) Lee Jung-Chool (Song Kang-ho) yang berpihak pada Jepang mengendus rencana tersebut.


Saya sebetulnya paham betul bahwa film-film Korea selalu mengedepankan esensi thrilling dan acapkali menstimulasi adegan yang cenderung brutal dan bloody. Sama seperti "I Saw the Devil", film yang mirip dengan "The Departed" ini dipenuhi kejar-mengejar, sumput-menyumput hingga intrik saling tipu-menipu dua kubu yang saling berseteru. Dibalik Jung-Chool sebagai tokoh sentris turut bimbang dengan identitas kala menjadi agen ganda seringkali disebut sebagai pengkhianat negara. Patriotisme, spionase, pemberontakan dan pengkhianatan turut menghampiri film berdurasi lebih dari 2 jam ini. Terlebih di bagian klimaks tanpa syarat menjadi agenda mengerikan saat melihat kebengisan orang Jepang menginterogerasi para pemberontak Korea secara kejam. Hal inilah kemudian menjadi indikator bahwa kolonialisme Jepang terutama Higashi (Shingo Tsurumi) secara keras dan tidak peduli jenis kelamin menyiksa mereka tanpa rasa iba menjadi sebentuk kebencian yang ditanam pada penontonnya lewat mimik ekspresi yang mengesalkan.

Film yang ditulis oleh Lee Ji-Min, Park Jong-Dae dan Kim Jee-Woon cukup menarik, cerita konsisten mengikat saya dengan atmosfer yang dibentuk melalui gelapnya suasana hingga berkali-kali moment aksi mencuri atensi, baik diawal saat serbuan para polisi yang mengejar salah satu pemberontak yang sedang bernegosiasi menjual barang antik, sequence tembak-menembak yang tidak sedikit menyembur darah dari kepala. Hingga kejutan berantai dari aksi brutal dan kekacauan di dalam gerbong hingga stasion kereta mirip adegan Quentin Tarantino, terpintas perjuangan para pemberontak ini terlihat jauh dari kata mudah, bahkan lebih eksplisit pengorbanan dan siksaan yang mereka peroleh tidak sebanding dengan hasil yang mereka terima. Tiada sedikitpun hela nafas coba diredam Jee-Won kala cerita pun meningkat lebih intens turut serta mempertanyakan nasib tiap karakter di film ini.


Film berbudget $8,620,000 ini memang terbilang bukan ambisi omong kosong semata, terlihat dari set dekorasi yang elegan dan old-fashion terasa artistik, juga landscape dari bangunan, mobil antik hingga busana fashionable yang dipakai para aktor dan artis memang membuat film ini kental akan kemewahan dan vintage. Akting para aktor dan artis high-class Korea pun tampil solid dan luar biasa, terutama Gong Yoo perjuangannya dalam mengambil setiap tindakan heroik dan Song Kang-ho yang lebih banyak tampil bermain ekspresi banyak diposisikan sebagai pengambil simpati. Dan Lee Byung-hun muncul minimalis tapi penuh karismatik pemimpin yang bijaksana.

Sebetulnya The Age of Shadows adalah karya yang luar biasa, kombinasi cerita yang terbilang kuat dan intens, tidak saja terbangun dengan berbagai rasa nasionalisme dari perjuangan, keteguhan hati dan pendirian tekad para pemberontak. Hingga misteri suspense mengantarkan berbagai pengkhianatan dan ancaman saat pemberontak bermain kucing-kucingan dengan antek Jepang. Tapi buat saya film ini sedikit termakan ambisi, diantaranya kesan yang terlalu gloomy pada mood film walau Lee Ji-Min tetap kokoh merangkai durasi film yang begitu panjang. But anyway, film ini tetap menjadi action thriller milik Korea yang perlu direkomendasikan untuk ditonton.




| Director |
Kim Jee-woon
| Writer |
Lee Ji-Min, Park Jong-Dae, Kim Jee-Woon
| Cast |
Gong Yoo, Lee Byung-hun, Shingo Tsurumi, Song Kang-ho, Han Ji-Min, Um Tae-Goo, Shin Sung-Rok,
| Rating |
Not Rated
| Runtime |
140 minutes (2h 20min)



OFFICIAL RATING | THE AGE OF SHADOWS (2016)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes

Anda Suka main poker game? Mungkin film ini cukup menarik untuk disimak juga buat yang suka dengan film-film bertema criminal and bussiness seperti The Wolf of Wall Street. Film ini diambil dari kisah nyata seorang wanita muda dan cantik bernama Molly Bloom (Jessica Chastain), mantan pemain ski sekelas Olimpic yang dikenal menjalankan bisnis judi eksklusif dengan pasang taruhan paling tinggi di dunia. Pemainnya tentu saja para konglomerat kaya, artis dan aktor Hollywood, pebisnis sukses dan juga bintang olahraga. Tapi di sisi lain ia juga menjadi target FBI dan konon Molly memiliki hubungan dengan sindikat mafia Rusia.

Dari trailer kita bisa saksikan keglamoran diantara pesona yang ditampilkan oleh Jessica Chastain sebagai pemeran utama, dan juga Idris Elba sebagai Charlie Jaffey yang diceritakan berada di pihak Molly. Selain itu aktor komedian Michael Cera dan juga aktor lawas Kevin Costner pun turut hadir di film ini meski belum diketahui ia akan berperan sebagai apa.

Film ini disutradarai oleh penulis naskah Aaron Sorkin yang mendapatkan beberapa nominasi dan penghargaan Academy Awards seperti The Social Network dan Moneyball. Meski ini debut penyutradaraan Sorkin, melalui adaptasi buku biografi Molly Bloom ini bisa menjadi pembuktian kuat dirinya selain menjadi screenwriter yang handal.

Molly's Game direncanakan tayang pada 22 November 2017.
🙶 My name is Courgette!🙷

My Life as a Zucchini adalah sebuah contoh kasus dilema yang menyoroti kehidupan masa kelam anak-anak karena masalah orang tua yang terbilang pelik dan memilukan menyentil moral kala mereka kehilangan sosok orang tua yang diharapkan mampu mendampingi dan melindungi mereka semasa kecil. Film dengan judul dalam bahasa Prancis-nya Ma vie de Courgette adalah debut sutradara Claude Barras yang diadaptasi dari novel Autobiographie d'une Courgette karya Gilles Paris tahun 2002 lalu. Film ini juga meraih penghargaan nominasi Academy Awards tahun 2017 untuk kategori Best Animated Feature Film of the Year.

Seorang anak kecil berumur 9 Tahun Courgette (Gaspard Schlatter) hidup bersama ibunya seorang pecandu alkohol saat ayahnya kabur dari rumah. Namun karena kecelakaan tak disengaja ibunya meninggal dan memaksa Courgette menjadi yatim piatu dan hidup sendirian. Seorang petugas polisi baik hati yang peduli akan nasib Courgette, Raymond (Michel Vuillermoz) kemudian sudi mengantarkannya ke sebuah panti asuhan bernama "The Fountains" tempat keberadaan anak-anak yatim seusia dan senasib dengannya dirawat. Hingga suatu hari datanglah Camille (Sixtine Murat) seorang gadis yang membuat Courgette jatuh hati padanya dan mencoba untuk mendekatinya sebagai sahabat.


Film ini sebetulnya hanya berdurasi pendek 66 menit, tapi cukup banyak menyoroti kehidupan yang tidak enak untuk dicicipi seorang anak di kehidupan nyata. Dan hanya karena film ini dibuat dengan animasi stop-motion yang penuh warna-warni dan fruitable dengan kepala berbentuk labu yang lucu, menurut saya film ini hanya mampu dicerna oleh penonton dewasa. Dari kata-kata subtle tentang seks, referensi alkohol, pembunuhan, dan narkoba ini memang bukan film yang cukup layak disajikan bagi penonton berusia muda, meski standar PG-13 tercantum di rating MPAA.


My Life as a Zucchini bukan film yang sentimen menyinggung orang dewasa yang kadangkala menghakimi anak tentang cara berpikir mereka yang masih minim informasi, melainkan dimaknai soal kecenderungan mereka yang mampu menganalisa dan memahami apa-apa yang orang dewasa lakukan. Dengan tingkah polos dan wajah tanpa dosa, salah satunya Simon (Paulin Jaccoud) anak yang terbilang nakal diantara lainnya kemudian membicarakan soal hubungan antara wanita dan pria, hingga kemudian "keringat" dan "meledak" cukup memberikan kita evaluasi diri akan kenaifan dan ketabuan dewasa saat menyinggung isu pendidikan moral kepada anak-anak. Apalagi saat mereka telah tenggelam dalam perilaku buruk orang tua yang menyeret anak-anak mengenal kata-kata dan melihat perilaku yang tidak lagi pantas untuk diajarkan.

Film yang ditulis oleh Céline Sciamma dan para kontributornya Germano Zullo, Claude Barras dan Morgan Navarro memang cukup jeli merangkai cerita, kisahnya memang tentang wajah-wajah kehilangan dan kesepian. Tapi, narasinya tetap anggun mewarnai kelas usaha mereka untuk menyajikan cerita yang ceria saat kebersamaan, kekeluargaan, rasa cinta dan persahabatan mewarnai kehidupan Zucchini, Cammile dan anak-anak lainnya. Dan lagi bumbu komedi dan tingkah jenaka yang kadang memancing kehangatan dan kelucuan menjadi simbolisasi kejenakaan mereka meski disamping turut juga dihantui bayang-bayang masa lalu orang tuanya.


My Life as a Zucchini memang bukan kisah cerita tentang pesan moral orang tua kepada anak, melainkan cara Barras menjadikan subtle parenting untuk orang tua agar mampu memahami pesan dan ungkapan anak-anak bahwa mereka membutuhkan kehadiran orang tua sebagai contoh teladan yang baik bagi kehidupan. Diungkapkan pula melalui Courgette yang tetap tidak mampu menghilangkan memori kedua orang tuanya kala layang-layang dan kaleng bir, hingga nama panggilan pun (nama asli Courgette adalah Icare) menjadi kenangan terbesar yang tidak ingin ia lupakan selamanya, Barras memang menyentil empati, tapi juga caranya menyikapi nilai luhur disampaikan secara dalam dan luar biasa. Hingga konklusi akhir cukup tersaji begitu indah, tulus dan hangat sebagai tahap seimbang antara awal yang memilukan menjadi secercah harapan di kehidupan yang baru bagi anak-anak, meski sejujurnya saya berharap durasi film ini sedikit dipanjangkan oleh Barras, karena biasanya film normal berdurasi lebih lama dari ini, rasanya kisah yang semanis dan sejujur ini terlalu singkat untuk diselesaikan.




| Director |
Claude Barras
| Writer |
Céline Sciamma
| Cast |
Comedy, Michel Vuillermoz, Paulin Jaccoud, Sixtine Murat, Raul Ribera, Estelle Hennard, Elliot Sanchez, Lou Wick
| Studio |
Rita Productions
| Rating |
PG-13 (for thematic elements and suggestive material)
| Runtime |
66 minutes (1h 10min)



OFFICIAL RATING | MY LIFE AS A ZUCCHINI (2016)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes
🙶 Salt... that life may always have flavor.🙷

Seberapa cintamu pada hidupmu seperti seberapa besar berharganya hadirmu buat orang lain? Tidak ada yang bisa mengukur seberapa besar eksistensi kita sebagai manusia dengan segala pengorbanan dan perjalanan hidup saat semua yang kita lakukan ternyata terasa sia-sia atau mungkin sesuatu yang tak pernah kamu bayangkan sebelumnya justru menjadi sesuatu yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bayangkan jika saya, anda, atau kita tidak pernah dilahirkan di dunia, dan keberadaan kita tidak pernah ada? It's a Wonderful Life seperti judulnya adalah film yang syarat makna begitu dalam tentang betapa berharganya hidup saat tanpa sadar kita telah melewatkan berbagai hal kecil yang ternyata itu berdampak besar bagi orang lain.

Film arahan sutradara Frank Capra ini memang sejatinya tidak akan pernah hilang dimakan usia, meski tampilan hitam putih, cerita sederhana tentang kehidupan sebuah keluarga dan impian yang sebetulnya terkesan sangat klise. Tapi, apa yang disampaikan film ini sanggup mengubah cara pandangmu akan dirimu sendiri hingga melekat sampai ke relung hati yang terdalam. Film ini memang di dedikasikan untuk film Christmas Day dan di Amerika setiap menjelang hari natal film ini selalu ditayangkan di televisi setiap tahun. Film ini bercerita tentang seorang pria paruh baya yang tinggal di Bedford Falls bernama George Bailey (James Stewart) yang harus mengorbankan setiap impian dalam hidupnya hanya untuk menolong orang lain sampai pada akhirnya ia mencoba bunuh diri dengan menceburkan dirinya dalam sungai di malam natal, hingga membawa malaikat penjaga Clarence Odbody (Henry Travers) ikut campur tangan untuk menolongnya dan memperlihatkan keajaiban yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


Film yang secara tak sadar adalah genre drama fantasy, ternyata pernah mendapatkan peraihan buruk di box office karena tingginya biaya produksi dan persaingan yang ketat pada saat film ini diluncurkan, tapi kemudian hari gegap gempita dan pengaruhnya di dunia sangatlah besar hingga membuat film ini akhirnya memperoleh 2x lipat penghasilan dari budget produksinya sebesar $3,180,000. Salah satunya film ini dianggap sebagai film paling kritis yang pernah ada, hingga mendapatkan 5 nominasi Oscar di Best Picture, Best Actor in a Leading Role (James Stewart), Best Director, Best Sound, Recording, dan Best Film Editing. Selain penghargaan bergengsi tersebut lainnya datang dari American Film Institute yang memasukkannya dalam salah satu 100 film terbaik Amerika yang pernah ada di peringkat 11.

Sehebat itukah film ini? Ya, saya tidak memungkiri bahwa film ini sensasional dan sangat inspiratif, meski mungkin film ini cukup membosankan dan ceritanya biasa saja ketika saya menontonnya pertama kali, apalagi film ini cukup menghamparkan beberapa kesan cerita yang melodramatis. Tapi, disisi lain film ini memiliki beberapa sentuhan seperti romantisme antara pertemuan Goerge dan kekasih hatinya Mary Hatch (Donna Reed) yang dibuat cukup menarik, juga bagaimana kita melihat kehidupan masa kecil Goerge hingga dewasa dari sekedar melihat besarnya impian yang dimiliki juga pengorbanan yang tidak sedikit membuat kita bersimpati pada kehidupan sang tokoh utamanya. Well, It's a Wonderful Life adalah sebuah film klasik yang wajib ditonton, bagaimana akhirnya film ini mampu membuatmu untuk selalu bersyukur dan tidak pernah menyesali apapun yang terjadi dalam hidupmu.




| Director |
Frank Capra
| Writer |
Frank Capra, Frances Goodrich, Albert Hackett
| Cast |
 James Stewart, Donna Reed, Lionel Barrymore, Thomas Mitchell, Henry Travers, Beulah Bondi, Frank Faylen, Ward Bond
| Studio |
Liberty Films
| Rating |
PG (for thematic elements, smoking and some violence)
| Runtime |
130 minutes (2h 10min)



OFFICIAL RATING | IT'S A WONDERFUL LIFE (1946)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes