LEMONVIE


Ini adalah film tv series ketiga setelah Game of Thrones dan Breaking Bad yang saya akui segila keduanya, meski film yang diberi judul The Handmaid's Tale ini baru berjalan 1 season. Tapi, sejujurnya ini merupakan film horror yang sebetul-betulnya horror mengerikan. Ya film horror khusus buat perempuan sekaligus kental dengan selipan feminisme lewat gempuran kebobrokkan dunia syarat radikalisme agama. Hingga saat saya menikmati film yang memiliki 10 episode dengan durasi hampir 1 jam saya sudah banyak-banyak beristighfar sangking gilanya film ini!

The Handmaid's Tale adalah cerita fiksi yang berasal dari novel best-Seller karangan Margaret Atwood, seorang wanita asal Kanada yang pertama kali mempublikasikan bukunya di tahun 1985, kemudian diadaptasikan melalui program TV 'Hulu' di tahun 2017. Singkatnya The Handmaid's Tale berkisah tentang dunia distopia dimana negara adidaya dan liberal yaitu Amerika Serikat dikuasai oleh ekstrimis agama (mungkin pandangan kita di dunia nyata semacam gerakan ISIS), yang sekarang berubah nama menjadi 'Republic of Gilead'. Film ini dilatar belakangi isu kekacauan dunia akibat polusi udara oleh pabrik dan juga kerusakan alam yang mengakibatkan sebagian besar manusia mengalami kemandulan baik pria dan wanita, sehingga kekacuan tersebut dimanfaatkan oleh gerakan ekstrimis agama dengan mensabotase kekuasaan di negeri Paman Sam.


Kisahnya diawali dengan seorang wanita handmaid bernama Offred (Elisabeth Moss) (bukan nama asli, namanya diganti setelah ia menjadi handmaid yang diambil dari nama depan tuannya, Commander (istilah buat para pria kepala rumah tangga) bernama Fred (Joseph Fiennes) dan istrinya Serena Joy (Yvonne Strahovski)). Sebelum Offred menjadi handmaid, ia adalah wanita karir yang memiliki kehidupan normal bersama suaminya Luke (O-T Fagbenle) dan gadis kecilnya Hannah, ia terpaksa terpisah dengan keluarganya setelah berusaha kabur dari kejaran anggota sekte tersebut dan ditangkap. Offred yang tertangkap kemudian dipaksa untuk bekerja sebagai handmaid bagi keluarga kaya dan elite, Waterford (Fred dan Serena). Selain disana ia pun mengenal Rita (Amanda Brugel) pembantu rumah tangga dan Nick (Max Minghella) sopir khusus keluarga Waterford.

Sebelumnya wanita digolongkan oleh beberapa kelas berdasarkan tugas/peran yang tersimbol melalui warna pakaiannya, red (merah) menandakan the handmaid (pembantu/budak), green (hijau) menandakan istri-istri para commander, brown (coklat) pembantu rumah tangga yang sudah renta (menopause) biasanya mengurusi dapur dll, dan black (hitam) atau biasa dipanggil "bibi" mereka ibarat 'suster' yang mengatur tindak tanduk para handmaid. Wanita di film ini tidak lagi punya hak dan kebebasan mutlak, mereka dikekang oleh teokrasi kejam. Mereka tidak bisa lagi diizinkan memiliki aspirasi, opini, tidak diizinkan bekerja, tidak diizinkan keluar rumah selain untuk keperluan penting, hingga tidak diizinkan membaca atau menulis (alias tidak diizinkan memiliki pengetahuan sama sekali). Semua yang mereka lakukan dibatasi, hanya diperbolehkan melakukan pekerjaan rumah dan melayani suami/tuan mereka. Sedangkan kaum laki-laki memiliki kekuatan/kewenangan penuh atas pekerjaan yang mana wanita tidak diizinkan melakukannya.


Yang paling miris mereka yang masih memiliki rahim subur ditangkap dan dipaksa menjadi handmaid hingga hampir dari mereka semua diperlakukan sebagai "alat" untuk berkembang biak (istilah kasarnya: jadi ternak manusia) bagi para majikan mereka yang tidak mampu menghasilkan keturunan alias mandul. Jika mereka tidak menurut atau melanggar aturan agama, mereka disiksa, sebagian di rajam (potong tangan/kaki) dan selebihnya dibunuh dan digantung di tembok-tembok jalanan. Selain dari itu, para pelaku homoseksual hingga yang dianggap pezina (wanita/pria) dihukum berat dan sebagian pula ada yang dihukum mati.

Sejenak ketika saya sedang menggambarkan betapa kejam dan mengerikannnya film ini, terutama bagi kaum wanita. Secara tidak langsung apa yang tersirat pada distopia masa depan film ini lumayan tersinkronisasi dengan apa yang sedang berkecamuk di masa kini. Ya, film ini seperti sedang menggambarkan ramalan buruk yang mungkin bisa terjadi di masa depan nanti. Mencolek beberapa negara seperti Iran dan juga gerakan taliban, hingga polusi dan pemanasan global yang kian hari merusak ekosistem dan mengancam kesehatan manusia. Kegilaan inilah yang coba di serempetkan oleh Bruce Miller sebagai kreator film ini mencoba mengkritisi sekaligus memberi pemahaman terhadap gejala yang terjadi sekarang, sehingga The Handmaid's Tale yang diluncurkan tahun 2017 lalu begitu pas dengan isu yang terjadi sekarang ini.


The Handmaid's Tale sendiri adalah film yang betul-betul menggambarkan kebobrokkan, keputusasaan yang membuat saya menelan ludah berkali-kali, sempat mengalami emosi hingga tak jarang meneteskan air mata kala setiap episode berhasil menggilas perasaan saya. Plot dan cerita The Handmaid's Tale sebetulnya sangat simpel, berjalan dengan alur yang begitu lambat. Tapi, Miller berkali-kali berhasil membangun atmosfer tanpa membuatnya terasa membosankan,  permainan scoring yang menyeramkan, kadang juga beberapa musik popular diselipkan dibeberapa bagian untuk menghilangkan stress penonton (meski sama sekali tak berpengaruh).

Pendeskripsian tema cerita pun begitu menyengat, saya seperti sedang kembali ke masa lalu Amerika Serikat saat terjadinya perbudakkan kaum kulit hitam, tapi dengan gaya kota yang sudah termodernisasi. Dekorasi dan dress yang mereka pakai pun melengkapi tema yang disampaikan seolah peradaban maju dan modern kembali mundur dan tradisional, hingga bagaimana Miller menciptakan suasana teror yang kian menghinggap tiap detik dalam kesunyian. Juga bagaimana kota-kota dan pinggiran rumah berubah seperti kota suram meski cukup ramai orang berlalu lalang baik mereka handmaid yang hendak berbelanja atau tentara bersenjata yang sedang berkeliling menjaga kota, kehidupan statis, suram dan beberapa teknologi dan benda-benda yang sebagian dimusnahkan agar dapat menjalankan beberapa aturan-aturan tak masuk akal yang berasal dari alkitab yang mereka yakini berasal dari Tuhan.


The Handmaid's Tale mengganyang dua penghargaan Golden Globes dalam kategori "Best Television Series - Drama" dan "Best Performance by an Actress in a Television Series - Drama" untuk akting Elisabeth Moss. Film yang kemudian menggambarkan distopia ini pun tak elak mengkuatkan isu feminisme ke tengah-tengah cerita. Perjuangan yang digambarkan melalui penderitaan, ketegaran, dan putus asa para wanita selain tersirat jelas melalui apa yang dirasakan Offred selaku tokoh utama ditengah pusaran kegilaan ini menjadi isu yang menonjok keras. Berkali-kali pun sempat saya temukan dialog-dialog yang menyindir kultur dan sosial akan eksistensi dan keberdayaan wanita di tengah masyarakat.

The Handmaid's Tale adalah film yang wajib ditonton, memandang bahwa film ini mencoba mengkritisi dan membawa isu penting soal kehidupan modern seperti sekarang, tentang moral, hak asasi manusia hingga pemahaman-pemahaman sensitif terkait feminisme, kultur dan agama. Ini mungkin adalah film sakit dan gila, cukup yakin bahwa menonton film ini harus kuat mental, karena banyak sekali ironi dan tragedi yang dialami wanita-wanita di film ini baik fisik dan psikis mereka, dihadapkan pada tragedi holocaust, pembantaian, pemerkosaan dan tragedi moral yang tak sedikit membuat perasaan tak nyaman. Tapi selebihnya, jika kalian penyuka film-film 'hardcore' seperti Breaking Bad atau Game of Thrones, mungkin The Handmaid's Tale pilihan yang tepat, apalagi buat yang sedang menunggu lama GoT (seperti saya) yang masih harus menunggu tayang 2019 nanti, mudah-mudahan film ini bisa meredam rasa sakit hati Anda.







Perempuan cantik berkelahi dan membunuh memang bukan lagi tontonan baru, cukup tengok contoh paling fenomenal Black Mamba yang diperankan Uma Thurman di film Kill Bill vol 1 & 2. Adegan yang selalu dilakoni aktor laki-laki ini kemudian berubah haluan saat perempuan mengambil alih lebih banyak. Tahun 2017 pun turut diramaikan bukan saja melalui "Atomic Blonde" yang mampu membuat akting Charlize Theron sangat anggun sekaligus badass, Korea Selatan pun tidak mau kalah menampilkan perempuan-perempuan berparas girl band ini sama gilanya dengan si "blondie" yang berjudul The Villainess aka Ak-Nyeo.

Sook-hee (Kim Ok-bin) seorang wanita malang yang berusaha mengejar pembunuh ayahnya, kini harus berada dibawah naungan organisasi underground yang dipimpin oleh Kwon-Sook (Kim Seo-hyung). Dengan sebuah identitas baru dan kehidupan baru untuk menyamarkan dirinya sebagai mata-mata dan pembunuh bayaran, Sok-hee yang berharap untuk mendapatkan kehidupan normal bersama anaknya Eun-Hye, tidak serta-merta membuat kehidupan Sook-Hee terlepas dari masalah ketika ia dihadapkan pada dua pria yang dicintainya Joong-sang (Shin Ha-kyun) sang mantan kekasih dan Hyun-soo (Bang Sung-Jun) pria yang baru dikenalnya.


Sebelum saya membahas bagaimana adegan bak-bik-buk dalam film ini yang tampil begitu panas dan brutal, saya ingin mempertegas lagi bagaimana sosok perempuan di film ini begitu eksklusif. Jung Byung-Gil sang sutradara memberi posisi eksklusif bagi sosok wanita yang justru berbeda dari Atomic Blonde dalam ruang lingkup cerita espionase yang lebih dalam tapi tidak menekan kepribadian dan emosi sang tokoh utama. The Villainess sebaliknya, membawa potensi cerita yang lebih sempit dengan mengedepankan sensitifitas tokoh utama, Byung-Gil memporsikan cerita lebih mendasar dan lebih personal.

Diluar tema yang tampak begitu deras akan aksi. The Villainess mungkin bisa saya sebut sebagai melodrama-action yang tak kunjung henti memperlihatkan ketar-ketir kehidupan Sook-hee. Jung Byung-Gil beserta penulis naskah Jung Byung-Sik membuat ceritanya kian memporsir kedekatan kita pada emosi dan perasaan Sook-hee. Kita ikut bersimpati sekaligus menyukainya. Ketika ia beraksi segila, selincah dan sebadass, tapi tak luput akan sisi feminim dan manusiawinya Sook-hee. Dia tampak kuat dan beringas ketika menghabisi lawan-lawannya tanpa ampun, tapi disisi lain diperlihatkan sisi wanita naif dan lemah saat ia dipertemukan dengan kehidupan percintaan dan tenggelam oleh perasaannya tersebut. Dengan setumpuk kehidupan cinta dan pertemuannya dengan dua orang pria yang dicintainya, tentu selipan unsur romansa pastinya saya temui disini, meski adegan tersebut tampil begitu klise dari yang paling menempel dalam otak saya saat Sook-hee berpayungan dengan Hyun-soo ditengah hujan atau hal-hal romantis klise lainnya sehingga sekelibat saya seperti sedang menyaksikan serial drama korea, tapi ini tidak melunturkan imej The Villainess sebagai film action, justru mempertegas hubungan emosional para tokohnya terkukuh lebih solid.


Disisi lain Byung-Gil mencoba mengekspansi kehadiran wanita jauh lebih berpengaruh dalam film ini, seperti halnya Kwon-Sook sebagai tokoh chief wanita yang tegas dan karismatik, hingga para wanita assassin lainnya selain Sook-hee turut menyumbangkan ototnya, hingga terasa wanita di film ini tampak seperti kunoichi (ninja wanita) yang ototnya lebih banyak terpakai daripada pria (selain para anggota kriminal tentunya). Hingga menyelipkan seputar kultur modern di Korea Selatan soal operasi plastik sebagai standarisasi kecantikan di Korea, meski hal ini hanya terselip melalui sepercik adegan tak penting, tapi cukup mewadahi sedikit sindiran Byung-Gil mengenai hal ini.

Sebagai elemen utama yang disajikan yaitu aksi, ternyata berperan besar dalam menawarkan sinematis yang variatif dan belum pernah saya saksikan sebelumnya. Selain polesan sinematografinya yang sangat apik, perpaduan warna palette yang selalu pas dalam menggambarkan setiap moment yang berbeda-beda. Tapi, yang perlu digaris bawahi adalah penggunaan teknik dan efek kamera yang sangat fantastis saat aksi mulai diputar. Beberapa momen aksi diambil dengan efek teknikal "first person" (istilah dalam game FPS yang mengambil langsung sudut pandang orang pertama) hingga efek "fisheye", memberikan pengalaman sinematis yang begitu melekat dan dinamis dengan mata saya sehingga aksi brutal layaknya The Raid dan Kill Bill ini seolah kita sendiri yang mengalaminya, tanpa harus membuat saya pusing dan bingung dengan gerakan kameranya yang sangat aktif dan liar.



Tapi, sayang The Villainess memiliki ending yang tidak begitu konklusif dan terkesan membingungkan. Entah apa karena saya sebagai penulis dan penonton  yang kurang peka atau memang Byung-Gil yang kurang menggali lebih dalam soal konflik cerita. Kontradiksi ini lahir dari hubungan Sook-hee dan Joong-sang, perpisahan dan pertemuan mereka tampak begitu ambigu, apalagi sosok Joong-sang yang memiliki rahasia yang sedari awal sudah saya tebak dan memang mencurigakan. Dan hal aneh ini mengganggu saya terutama *SPOILER: Saya tak mengerti kenapa Joong-sang tega memutuskan membunuh anak darah dagingnya sendiri Eun-Hye yang buat saya masih sangat lucu-lucunya, (ingat adegan anak buah Joong-sang menyandra Hyun-soo dan Eun-Hyo dirumah, kemudian Hyun-Soo mengatakan pada Joong-sang melalui handphone bahwa Eun-Hye adalah anak kandungnya, tapi sayang jawaban dari Joong-sang sengaja dibuat tidak terdengar), ini membuat saya makin tak paham, apakah Joong-sang tak mempercayai kata-kata Hyun-Soo atau memang murni Joong-sang ini goblok dan tak menyadari bahwa Eun-Hye adalah anaknya sendiri? Tapi sayangnya Joong-sang mengakui pernah jatuh cinta pada Sook-hee, mereka menikah dan saya rasa dia tidak gila dan saya rasa dia hanya sedikit goblok dalam bertindak. Dari sini saya kontradiksi dengan kepribadian dan masalah yang dialami Joong-sang, hanya karena alasan pernah membunuh ayahnya Sook-hee, ia kemudian memalsukan kematian,  menyengsarakan Sook-hee dan tega membunuh Eun-Hye? Ini terlalu dangkal untuk sebuah konklusi. Meski saya menyadari mungkin seharusnya Byung-Gil dan Byung-Sik mengambil lebih banyak waktu menceritakan lebih dalam profil Joong-sang, sehingga konklusi terasa lebih masuk akal dan beralasan. Tapi, sayang ini membuat cerita menjadi timpang dan membuatnya menjadi menyebalkan. *SPOILER END*. Selain itu saya pun tak memahami apapun kondisi yang terjadi di universe The Villainess, termasuk organisasi yang dipimpin Kwon-Sook yang notabene apakah mereka berasal dari organisasi dibawah naungan polisi atau memang mereka berasal dari sindikat kriminal elite semacam John Wick yang menugaskan Sook-hee dan para wanita (cantik) rekrutan ini membunuhi target tanpa harus mempertanyakan siapa mereka. Meski ini bukan pondasi yang ingin disampaikan, tapi ini juga menimbulkan tanda tanya besar di akhir, sehingga menimbulkan kemungkinan adanya The Villainess 2, meski hal ini tak mungkin terjadi.




๐Ÿ™ถBut do right and wrong matter when it's for people you love?๐Ÿ™ท

Saya cukup terkesan sekaligus terkejut bahwa salah satu film yang berasal dari adaptasi manga/anime karya Hiroaki Samura ini meraih cukup banyak respon positif dari review luar semacam rottentomatoes dengan perolehan 82% dan metacritic 69%. Dibalik itu semua memang ada nama besar yang pantas diperhitungkan, tiada lain sang sutradara Takashi Miike yang dikenal akan film-filmnya yang fenomenal yaitu "13 Assassins", "Ichi the Killer" dan "Audition". Meski begitu tak bisa dipungkiri bahwa tahun 2015 lalu ia gagal memperoleh kesuksesan kala membuat film "Yakuza Apocalypse" yang justru dianggap terlalu absurd dan memantik bahwa karya yang satu ini kurang digarap dengan serius, hingga "Blade of the Immortal" aka Mugen no Junin muncul sebagai "act of retribution" buat Miike.

Berkisah tentang seorang samurai  bernama Manji (Takuya Kimura) yang diberi kekuatan keabadian oleh nenek misterius yang mengaku sebagai Yaobikuni. Kekuatan yang didapat dari cacing darah tersebut membuatnya tak bisa mati meski ditebas dan ditusuk berkali-kali. Sebagai samurai penyendiri nama Manji mulai terkenal selain karena harga kepalanya sebagai buronan cukup tinggi. Hingga 50 tahun kemudian seorang gadis tak berdosa bernama Rin Asano (Hana Sugisaki) mengalami kepahitan saat anak dari pemimpin dojo ini harus melihat ayahnya dibunuh dan ibunya diculik dan diperkosa oleh para anggota Itto-ryu yang saat itu sedang mengambil alih dojo-dojo di wilayah tersebut, dipimpin oleh samurai berkemampuan tinggi Anotsu Kagehisa (Sota Fukushi). Demi niatan membalas dendam, Rin yang mendapat kabar akan kemampuan hidup abadi Manji, menyewanya sebagai bodyguard dan membantunya menyelesaikan misi balas dendamnya.


Cukup terbayang jika siapapun yang berpikir bahwa "Blade of the Immortal" mirip dengan "Rurouni Kenshin", sepintas tidak salah tapi tidak juga benar. Justru Blade of the Immortal terasa jauh lebih spicy dan gory, melihat banyaknya darah muncrat berceceran, hingga kaki dan tangan yang tampak putus tertebas kian tak berhenti bertebaran di tiap saat. Selayaknya film Takashi Miike yang terdahulu memang kerap menggunakan darah dan sayatan mengerikan semacam film slasher miliknya Ichi the Killer dan Audition yang fenomenal, Blade of the Immortal adalah jaminan bahwa Miike layak dijuluki Quentin Tarantino versi negeri Sakura.

Sayangnya, bagian aksi yang terbilang tampak gila-gilaan dan brutal ini tampak terasa repetitif, meski adu pedang dan tusuk menusuk tubuh yang menancap di badan Manji kian memberi efek rasa nyeri dan ngilu sepanjang cerita, aksi non-stop ini malah kurang menggairahkan. Saya mungkin tidak berbicara soal koreografi keren nan apik seperti "The Raid"-nya Gareth Evans. Hanya saja aksi yang kian padat kurang memorable dan kurang menancap di benak saya setiap kali Manji mengayunkan pedangnya berhadapan dengan petarung-petarung tangguh yang bisa dibilang punya karismatiknya masing-masing. Karena berhadapan dengan linimasa cerita penuh adegan bak-bik-buk tanpa henti, tapi mengedepankan esensi aksi dan kegilaan, tapi tak satupun adegan terasa lebih mendebarkan yang justru dijejali dengan aksi medioker ketimbang epic moment.


Tapi, bagian terbaiknya datang dari script naskah yang menjanjikan. Selama ini kelemahan di tiap-tiap live action yang diadaptasi manga/anime berasal dari naskah yang kurang cerdik merangkum konflik, cerita dan karakter yang diadaptasi. Miike dan penulis naskah yang membantunya Tetsuya Oishi berhasil meramu kesemua hal tersebut dalam sinkronitas yang cantik, menjangkau padatnya alur cerita manga yang jumlahnya 30 volume dalam satu naskah yang brilliant. Hal-hal yang tampak klise seperti motif balas dendam, rasa cinta, perjuangan, kesetiaan, penyesalan dan masa lalu kelam terasa begitu hidup. Dan setumpuk karakterisasi tokoh yang dijejali dalam durasi 140 menit ini cukup solid dan tiap tokoh mendapat peran yang setimpal, meski ada beberapa yang masih kurang menonjol karena keterbatasan durasi dan waktu, tapi Miike masih mampu mempertahankan tiap tokoh untuk berkembang dan jelas tokoh sampingan yang berjibun mendapatkan injeksi seadanya tanpa harus kehilangan identitas.


Takuya Kimura sebagai leading actor cukup berperan baik dengan tatapan matannya yang tajam, meski dengan raut wajah tak ramah dan pelit senyum, tapi kian mengisyaratkan relevanitas latar belakangnya yang gelap. Berpasangan dengan Hana Sugisaki sebagai Rin dan Machi, meski tampak agak kaku saat beradu akting, tapi kerap setiap moment mampu membangun chemistry diantara mereka berdua, dan bahkan tak jarang gurauan dan sedikit kekonyolan malah menghidupkan timbal balik diantara keduanya, membangkitkan sedikit sensitifitas antar tokoh yang ada. Kazuki Kitamura pun tampil cukup menarik, berperan sebagai Sabato Kuroi memancing aura quirky dan sharp, meski perannya tidak terlalu kontras disini. Sota Fukushi yang berperan sebagai antagonis sentris, meski agak timpang, tapi perannya sebagai Anotsu yang berkarakter dingin dan karismatik tetap terangkat, ditambah hubungan misteriusnya dengan Makie Otono-Tachibana (Erika Toda) yang setia padanya, memberikan kompleksitas watak Anotsu sebagai titular karakter yang gila ambisi tapi tetap memiliki penekanan moralitas dan emosi manusiawi yang subtil.

Overall, Blade of the Immortal sangat menghibur, menegaskan sutradara Takashi Miike adalah sineas brilliant dari negeri Jepang yang patut diperhitungkan. Kelemahan dasar film ini hanya terletak pada formulasi utama yang coba ditonjolkan Miike pada bagian action sebagai dasar kekuatan justru jadi kelemahan, apalagi ditambah kebrutalan dan kegilaan yang tampaknya "Mo-brothers" atau "Gareth Evans" jauh lebih greget daripada ini. Tapi, lagi-lagi tanpa script dan transformasi yang sempurna, semua itu tidak akan ada apa-apanya. Sebagai film ke-100 Takashi Miike, ini adalah salah satu adaptasi manga terbaik diantaranya.




๐Ÿ™ถYou're our most unwelcome visitor, and we do not propose to entertain you.๐Ÿ™ท

Secara hukum alam pria mendominasi wanita secara fisik maupun emosi karena dianggap lebih lemah. Pria dan wanita memang ditakdirkan memiliki perbedaan, namun perbedaan tersebut justru mengikat mereka melalui hasrat dan ketertarikan. Sofia Coppola sutradara wanita yang dulu sangat sukses dengan film romance "Lost In Translation" 2007 lalu, mencoba mengekspresikan wujud interaksi antara wanita dan pria dalam wujud yang paling darkly dari sebuah karya film terbarunya, The Beguiled yang artinya "memperdaya", "menipu", "mempermainkan". Film ini sendiri seolah kentara bermain dengan unsur psycho-thriller, dimana atmosfer juga tatanan visual dark dan vintage yang kusam membuatnya terasa sangat kelam.

Bersetting tahun 1864 di kota Virginia, Amerika Serikat atau lebih tepatnya 3 Tahun menjelang perang sipil. The Beguiled bercerita tentang seorang pria misterius tak dikenal, Corporal McBurney (Colin Farrell) mengklaim dirinya adalah tentara yang berhasil kabur dari medan perang sipil. Seorang gadis, Amy (Oona Laurence) yang tengah mencari jamur di dalam hutan menemukannya tergeletak tak berdaya dengan kaki terluka memintanya pertolongan. Amy yang merasa kasihan lalu membawanya ke tempat ia tinggal, sebuah sekolah sekaligus asrama wanita. Tentu saja kedatangan tamu tak di undang, McBurney mengejutkan Miss Martha (Nicole Kidman), guru sekaligus pemilik dan pengurus sekolah, Edwina (Kirsten Dunst) seorang guru tunggal, dan para murid mereka Alicia (Elle Fanning), Jane (Angourie Rice), Mary (Addison Riecke), dan Emily (Emma Howard).


Saya sebenarnya agak bingung mengkategorikan film The Beguiled sebagai thriller suspense, meski seperti yang sudah saya katakan film yang diadaptasi dari novel Thomas Cullinan berjudul sama ini agak terasa kurang menegangkan dan terkesan lebih tipikal. Ya, beberapa faktor kekurangan film ini terutama dari segi narasi cerita yang rasanya menjadi asal muasal film yang mencoba menyulap konflik wanita-pria-wanita terasa lemah. Filmnya hampir terasa datar dan beberapa scene terasa repetitif.

Seperti yang saya tahu wanita-wanita ini berada dalam lingkungan yang jauh dari lingkungan sosial masyarakat kota, beradaptasi dengan lingkungan yang sunyi jauh dari perkotaan, ditambah kecamuk perang sipil yang bergejolak. Rasa paranoid akan keadaan hingga kemunculan sosok McBurney yang identitasnya hanya diketahui dari mulutnya entah benar atau tidak, menambah kecurigaan berdasar, apalagi isu pemerkosaan yang disebut-sebut sering dialami wanita oleh para tentara musuh selama perang semakin membuat sosok pria semakin berbahaya. Tapi, filmnya membaur secara lebih kompleks, kehadiran pria oleh para wanita di film ini memiliki perspektif berbeda saat interaksi dilakukan dengan pria (apalagi tampan) secara langsung dan terbuka, dari yang polos sampai yang genit. Hingga terjadi kedekatan asmara, cinta dan nafsu diantara mereka menimbulkan kecemburuan.


Sayangnya film ini diperburuk oleh naskah cerita, filmnya membingungkan dengan banyaknya kontradiksi yang ada, *SPOILER* semisal identitas McBurney yang samasekali tak pernah diketahui apa ia betul-betul seorang tentara atau bukan, atau perbuatan yang dilakukan Miss Martha sesungguhnya karena paranoid, cemburu atau panik saat memotong kaki McBurney, hingga melakukan pembunuhan keji disertai menyeret para gadis-gadis polos dan tak berdosa untuk melakukan rencana keji tersebut dengan rasa tak berdosa *SPOILER END*. Hasrat dan nafsu yang ditekankan oleh Sofia Coppola terasa lemah dan rasanya Coppola kurang pandai memancing kekacauan dan buruknya pengenalan karakter yang ada. Untungnya akting semacam Nicole Kidman masih mengadiksi melalui tatapan matanya yang tajam, memancing paranoid, otorisasi, penolakan dan kebencian meski kita tahu ia hanya mencoba melindungi para gadis dan sedikitnya selalu bersikap baik dan ramah, entah ia baik atau jahat saya pun kurang mengerti. Kirsten Dunst berlaku pada wanita dewasa yang lemah, mudah diperdaya dan jauh lebih polos dari yang saya duga. Hingga yang tak habis pikir, Elle Fanning tetap harus berkutat dengan akting "liar"-nya selain "20th Century Women" dan "The Neon Demon", but it's okay melihat parasnya yang muda dan cantik, tapi raut wajahnya memang selalu terkesan labil dan sedikit-sedikit horny. Dan Collin Farrell, tipikal pria yang suka memperdaya dan memanfaatkan kelemahan wanita dengan kata-katanya yang manis dan penuh bualan.


Well, saya sempat bingung ketika menyelesaikan film ini dengan penuh tanda tanya, tak mengerti tujuan dari Coppola membuat film ini. Tapi, jika menafsirkan sendiri makna dibalik novel Chullinan sendiri pada dasarnya The Beguiled bercerita tentang manusia dalam sosial selalu merasa bijak dan berperilaku sesuai moral didepan orang lain, memenuhi dan mengajarkan tentang bersikap baik dan sopan, meski itu dalam literasi alkitab maupun buku pedoman, namun ketika dorongan hasrat, cinta dan nafsu memanggil, alam bawah sadar kadang membuat logika menjadi dangkal, hingga sifat manusia yang asli muncul dengan kedok kelemahan dan kebaikan, mungkin dimisalkan para wanita yang diremehkan oleh McBurney. Hanya saja Coppola kurang menggali lebih dalam konflik dan hubungan yang hadir seadanya saja, terkesan Coppola takut mengeksplorasi sisi yang lebih menggigit dari sekedar seorang pria yang mencoba memanipulasi sisi terlemah wanita, meski tata visual vintage terasa cantik dan haunted, sampai tata busana-nya cukup manis untuk ditampilkan. The Beguiled hanya kurang terasa fokus mengalirkan tujuan utamanya, hingga di akhir cerita saya sempat bengong, apakah endingnya hanya begini saja? Jadi apa maknanya?





Film hollywood, korea, blockbuster, tv series atau semacamnya bukan satu-satunya yang saya nikmati di waktu senggang. Anime pun salah satu yang bisa buat saya ketagihan dan lupa waktu. Anime berasal dari adaptasi manga, light novel, game atau anime original yang sangat menarik karena mengusung kreatifitas dan konsep imajinasi tanpa batas (baca: liar) yang membuatnya terus-menerus dibuat tanpa henti.

Meski begitu, bukan berarti anime punya jalinan cerita solid yang semuanya mampu saya telan mentah-mentah, kebanyakan dari anime mengusung cerita yang amat klise, terbatas dan cukup banyak membosankan, kebanyakan dari anime hanya karya inferior yang berasal dari copy-paste karya anime yang lebih popular lebih dulu bahkan ada yang hanya mengedepankan sisi eksploitasi seksual dan gender yang biasa disebut fan-service dan animenya dikenal dengan genre "ecchi". Dan selebihnya, kisah cerita dalam anime pun terkadang biasa saja dan tidak terlalu istimewa, selayaknya autobiografi sang mangaka dengan kisah yang sangat sehari-hari.

Yah meski begitu Anime tetap punya "masterpiece"-nya yang ternyata masih banyak karya anime wajib tonton yang tak boleh disia-siakan. Anime masih punya nyawa untuk tetap bertahan dengan cerita yang kadang keren, pengembangan karakter, hingga hal-hal yang tidak bisa saya dapatkan di film-film konvensional atau film "real" lainnya. Berikut daftar 10 anime yang buat saya terbaik sepanjang masa yang wajib ditonton atau layak tonton.

1. Full Metal Alchemist: Brotherhood
Anime adaptasi dari manga berjudul sama karya Hiromu Arakawa ini bukan hanya bisa dibilang anime terbaik, justru terlampau sempurna (perfect) untuk dikatakan anime tanpa cacat. Ceritanya berkonsep pada manusia yang memiliki kemampuan alkemis (ilmu pengetahuan yang dicampur dengan sihir). Sudut pandang ceritanya berkisah antara dua kakak-beradik, Elric bersaudara, Edward dan Alfonso yang berusaha menghidupkan ibunya yang telah mati dengan kemampuan alkemis terlarang, tapi sayang yang mereka berdua lakukan sia-sia dan menyebabkan tangan kanan sang kakak, Edward lenyap dan tubuh sang adik hilang digantikan melalui tubuh zirah dan tangan mekanik. Agar mampu mengembalikan tubuh mereka seperti semula mereka berdua berpetualang dan mencari tahu tentang batu "philosopher" misterius. Dengan latar sedikit bergaya eropa, FMA:B adalah karya yang buat saya luar biasa dan tak terlupakan. Aksi, petualangan, komedi hingga misteri bercampur aduk dengan atmosfer yang terasa begitu kental, apalagi ditambah scoring dan musik yang bikin bulu kuduk merinding. Tiap-tiap episode murni selalu tak bisa ditebak dan penuh dengan kejutan beruntun menyesakkan. Lain dari itu kisah yang terasa hidup, manusiawi, hingga mempermainkan emosi dan moral sebagai ujung tombak, inilah yang membuat anime ini terasa begitu menabok hati saya karena plot ceritanya sendiri terkesan dinamis dan langka. Dalam waktu 3 hari, dalam 64 episode, satu-satunya anime yang membuat saya bertahan tanpa peduli waktu dan makan. Sebuah anime yang sampai artikel ini dibuat belum satupun anime yang mampu menabok hati saya sekuat ini sampai endingnya pun membuat saya hampir berlinang air mata sangking mengharukan.

2. Hunter X Hunter

Hampir sama dengan Full Metal Alchemist: Brotherhood, ia adalah anime langka adaptasi manga karya Yoshihiro Togashi yang serupa sempurnanya. Kekurangan anime ini hanya terletak pada ceritanya yang belum tamat (bahkan manga aslinya yang sudah lama diluncurkan pertama kali tahun 1998), karena isu sang mangaka yang seringkali hiatus jangka panjang karena beberapa masalah kesehatan. Tapi, HXH adalah anime jenius yang mempertemukan konsep cerita yang cerdas, padat dan unik. Terlebih pendapat saya soal hiatusnya sang mangaka mungkin saja tidak dipakai untuk bermalas-malasan, justru digunakan untuk mencari ide cemerlang dalam membangun cerita dan fokus konflik yang kuat. Anime ini juga penuh kejutan, dan HXH tidak hanya berfokus pada cerita karakter utamanya saja yaitu Gon, melainkan beberapa sudut pandang kompleks tokoh sampingan lainnya pun turut diceritakan. Disamping itu, plotnya cerdik, tidak ada episode basi yang berhasil dimaksimalkan dengan beberapa gesekan konflik yang keren dan playful, tidak serta merta hanya mengandalkan teknis combat battle atau aksi semata, melainkan konteks yang lebih naratif dan manipulatif.

3. Death Note
Beda dengan dua anime barusan, Death Note lebih kepada psychological-crime-thriller dengan sedikit bumbu horror-fantasy. Takeshi Ohba dan Tsugumi Ohba adalah otak yang memberikan konsep otentik nan cerdas dalam menarasikan cerita penuh intrik dan manipulatif seperti Death Note. Saat dua orang paling jenius saling berkonfrontasi, yang satu "L" detektif paling hebat di dunia dan "Light Yagami" remaja sekolah yang tidak saja tampan, tapi orang paling cerdas setingkat nasional. Death Note adalah buku pembunuh paling berbahaya jika nama seseorang ditulis dibuku milik Shinigami (Malaikat Kematian) Ryuk tersebut maka akan mati. Light Yagami adalah tokoh sentris yang membawa pengaruh ambiguitas moral, ketika ia berkata menggunakan Death Note untuk perdamaian dunia dengan membunuh secara massive para pelaku kriminal, sedangkan L mencoba menangkapnya karena aksi pembunuhan. Kelebihan anime Death Note adalah narasi dan penceritaan yang terkesan detil dan tanpa celah, beberapa kali mampu membuat takjub. Kekurangan anime hanya terletak pada perbedaan akhir yang kurang tragis di animenya. Saya yang kontra tentu saja cukup kecewa dengan akhir yang sebetulnya sedikit tidak jauh berbeda dari konklusi aslinya.


4. Yahari Ore no Seishun Love Come wa Machigatteiru
Anime dengan latar belakang school life tentang tokoh pria introvert bukan barang baru di dunia manga atau anime. Mencirikan kebiasaan remaja jepang yang biasa disebut hikkikomori, mungkin ada puluhan dengan konsep cerita yang sama tentang school life ini apalagi berbarengan dengan bumbu harem. Yahari Ore no Seishun Love Come wa Machigatteiru (My Youth Romantic Comedy Is Wrong, As I Expected) mungkin terdengar sangat membosankan seperti judulnya yang terlampau panjang. Tapi, mungkin inilah anime drama yang paling berkesan dan paling mudah dicintai karakter utama dan sampingannya. Kisahnya sederhana dan terdengar klise, Hachiman, remaja tanggung dengan tingkah sinis terhadap kehidupan, pergaulan dan cinta. Penyendiri yang memiliki pandangan nihil soal kehidupan, tapi seorang narsis yang pintar mengkritisi lingkungan sekitarnya. Anime ini sedikit banyak mencoba mencerminkan isu sosial modern dengan cara yang sangat sederhana tapi tidak sampai tahap membosankan, juga tidak berlebihan yang sifatnya justru sama sekali tak menggurui. Anime yang didasari pada light novel karya Wataru Watari ini punya kualitas narasi yang amat cerdas dan satir mengungkapkan kasus diskriminasi gender dan kehidupan muda dengan cara yang sangat santai namun observatif. Sulit untuk menyamai anime yang satu ini, mudah dicintai. Kekurangannya? hanya desain Hachiman yang berubah di season 2, terlalu tampan, lebih suka desain lama yang agak konyol.

5. Prison School
Pada waktu menonton episode perdana saya pikir ini hanya anime bullshit yang di isi sekumpulan remaja tanggung berkelakuan cabul yang penuh dengan pikiran kotor yang suka mengintip celana dalam cewek dan parahnya ingin beraksi untuk mengintip cewek-cewek sekolah mandi dengan rencana bulus dan pintar. Melihat tingkah empat remaja yang lihat mukanya saja bikin enek lalu muncul rasa empati pada karakter wanita yang dilecehkan di anime ini. Mungkin iya mungkin tidak, Prison School mampu menggelontorkan keyakinan saya 180 derajat. Ini adalah anime ecchi-comedy ter-offensif namun juga terkeren dalam linimasa ceritanya yang sangat mixed. Konsep ceritanya yang brutal, porno, eksploitatif, absurd dan tak masuk akal, tapi lambat laun intens menceritakan plot yang sangat cerdas, menegangkan dan twisted. Dibalik parahnya fanservice, tapi Prison School sangat layak dengan gaya kisah semi-detektif dengan suntikan adiksi lelucon kotor yang memang lucu setiap episodenya. 


6. Kuroko no Basuke
Shounen yang paling digemari selain action-fantasy adalah shounen sport, beragam cerita anime dari baseball, soccer, tinju hingga basket sangat mendominasi. Selain Slum Dunk, anime basket paling terkenal adalah Kuroko no Basuke. Ceritanya tentang 5 pemain basket paling berbakat disebut sebagai "Generation of Miracles", sebutan tersebut bukan sekedar kata-kata, kemampuan dari mereka berlima bahkan tidak ada di dunia kita (nyata) selain hanya ada di anime ini. Kuroko dan Kagami adalah murid SMA baru yang bergabung di klub basket Seirin, petualangan mereka dimulai untuk mengalahkan tiap-tiap generasi keajaiban tersebut agar menjadi yang terhebat. Mendengar sedikit sinopsis tersebut mungkin kita sudah tahu anime seperti ini amat klise, tapi jangan salah, keseruan di tiap-tiap episode hingga pertandingan sangat epik, emosional dan mendebarkan. Animasi di Kuroko sangat keren dan desain karakter yang cool dan tampan menjadi daya tarik, meski kadang aksi di lapangan dengan jurus-jurus Kuroko hingga ada istilah "zone" sangatlah berlebihan dan tak masuk akal, tapi semua cukup relevan dan lumayan logis karena di Kuroko tidak ada yang mampu mengeluarkan angin ribut hingga tornado di lapangan.

7. Attack On Titan (Shingeki no Kyojin)
Saya sebetulnya cukup sungkan memberi list pada anime yang belum selesai seperti yang satu ini. Tapi, walau baru berjalan 2 season, Attack On Titan sudah cukup memukau saya dengan aksi plus konsep cerita yang tergolong mendebarkan dan mengerikan. Attack On Titan adalah anime distopia saat manusia harus berlindung di balik dinding besar bangunan dari serangan makhluk misterius berukuran besar, telanjang dan berwujud manusia yang suka memakan manusia bernama Titan. Anime ini bukan saja tentang kisah survival manusia, melainkan kental unsur psikologis dan misteri yang menyelimuti universe Attack on Titan. Anime satu ini tampil hampir tanpa kekurangan, animasi, bobot cerita, hingga perkembangan tiap karakter sangat epik. Banyak hal yang membuat tangisan dan putus asa, hingga sedikit membawa unsur politik dan kekuasaan. Satu hal, saya berharap anime ini mampu menampilkan klimaks cerita yang memuaskan di akhir, tidak bertele-tele dan animenya dibuat sesuai manganya sampai tamat.

8. Clannad & Clannad After Story
Tak banyak anime drama yang saya cintai kecuali setelah saya bertemu dengan Clannad. Meski condong ke arah komedi, romantis dan drama. Anime satu ini cukup mendorong saya untuk terus menonton tiap episodenya yang sederhana, lucu dan hangat. Menonton Clannad seperti saya sedang menikmati animasi ghibli dan film karya sutradara Hirokazu Koreeda dengan desain yang lebih "moe". Meski begitu konflik dan cerita yang diselipkan jauh lebih dewasa tentang kehidupan, keluarga, cinta, sahabat dan hubungan antar manusia dan lingkungan sekitarnya. Meski hanya memiliki sedikit unsur fantasi dan supernatural didalamnya, tapi, Clannad bukan tipikal anime dengan jalan cerita sempit. Anime ini lebih banyak memainkan emosi penonton dengan cerita yang menghanyutkan dan begitu indah, dan tentu saja saya tidak asal-asalan memasukkan Clannad di daftar ini selain karena twist ending-nya yang membuatmu "meledak", eh maksudnya tidak kuat menonton episode-episode terakhirnya dengan klimaks yang kelewat menyayat hati dan membuat rasa putus asa dan depresi.

9. Shokugeki no Souma
Bertemakan hidangan memasak, Shokugeki no Souma membuat saya tahu banyak soal makanan, sehingga cara pandang saya soal makanan yang dulu hanya tahu "lihat-santap-kenyang" sekarang mulai berubah. "Sense of taste" (bahasa saya sendiri) dalam diri saya mulai meningkat sejak menonton anime yang becerita tentang bocah lelaki bernama Yukihira Souma yang bekerja disebuah kedai makanan milik ayahnya. Ketika bisnisnya bangkrut, ia kemudian mendaftar ke sebuah sekolah elit memasak yang dikenal kejam dan hanya mampu meluluskan 10% dari siswanya. Sebetulnya anime ini sedikit disepelekan karena terlihat tampak klise dan jalan ceritanya sangat linear. Salah! Anime ini memang tampak seperti adu pertarungan lewat memasak, tapi begitu menerobos cerita lebih dalam banyak kejutan, keseruan dan ketegangan, selain hidangannya pun selalu membuat lapar. Selain desain karakter yang keren, terutama desain wanita yang kawaii. Shokugeki no Souma bukan sekedar anime tanpa dibekali referensi, menariknya masakan yang ditampilkan oleh anime ini langsung didapat melalui olahan dan resep aslinya.

10. Baka to Test to Shoukanjuu
Jika kamu butuh komedi dari sekumpulan orang bodoh dan orang pintar, anime satu ini patut ditonton. Ceritanya berpusat pada sekolah yang "mendiskriminasi" para muridnya. Mereka dibagi melalui kelas (kasta) A sampai F, para murid digolongkan sesuai nilai ujian mereka. Jika murid itu mendapatkan nilai terburuk, ia akan dimasukkan ke kelas F dengan fasilitas kelas paling hancur dan tak layak pakai, dan kelas A dengan fasilitas bak hotel berbintang mewah sesuai dengan nilai ujian yang mereka hasilkan. Akihisa sang tokoh utama mungkin adalah kebalikan dari Albert Einstein, murid paling bodoh dan polos di dunia, bersama dengan teman-teman sekelasnya, melalui sebuah perangkat sistem sekolah bernama battle summon para murid di izinkan bertarung satu sama lain agar mereka bisa lepas dari kasta terbawah. Anime ini cukup ringan namun cerdas, meski dibumbui lawakan komedi bodoh, ini salah satu anime favorit sebagai school life comedy yang anti-garing.


Demikian anime terbaik yang wajib ditonton, mungkin jikalau referensi anime saya bertambah, saya akan buat lagi di Part 2. Jangan lupa untuk share artikel ini ke teman-teman kalian dengan menekan tombol dibawah. ๐Ÿ˜ƒ