LEMONVIE
๐Ÿ™ถBut do right and wrong matter when it's for people you love?๐Ÿ™ท

Saya cukup terkesan sekaligus terkejut bahwa salah satu film yang berasal dari adaptasi manga/anime karya Hiroaki Samura ini meraih cukup banyak respon positif dari review luar semacam rottentomatoes dengan perolehan 82% dan metacritic 69%. Dibalik itu semua memang ada nama besar yang pantas diperhitungkan, tiada lain sang sutradara Takashi Miike yang dikenal akan film-filmnya yang fenomenal yaitu "13 Assassins", "Ichi the Killer" dan "Audition". Meski begitu tak bisa dipungkiri bahwa tahun 2015 lalu ia gagal memperoleh kesuksesan kala membuat film "Yakuza Apocalypse" yang justru dianggap terlalu absurd dan memantik bahwa karya yang satu ini kurang digarap dengan serius, hingga "Blade of the Immortal" aka Mugen no Junin muncul sebagai "act of retribution" buat Miike.

Berkisah tentang seorang samurai  bernama Manji (Takuya Kimura) yang diberi kekuatan keabadian oleh nenek misterius yang mengaku sebagai Yaobikuni. Kekuatan yang didapat dari cacing darah tersebut membuatnya tak bisa mati meski ditebas dan ditusuk berkali-kali. Sebagai samurai penyendiri nama Manji mulai terkenal selain karena harga kepalanya sebagai buronan cukup tinggi. Hingga 50 tahun kemudian seorang gadis tak berdosa bernama Rin Asano (Hana Sugisaki) mengalami kepahitan saat anak dari pemimpin dojo ini harus melihat ayahnya dibunuh dan ibunya diculik dan diperkosa oleh para anggota Itto-ryu yang saat itu sedang mengambil alih dojo-dojo di wilayah tersebut, dipimpin oleh samurai berkemampuan tinggi Anotsu Kagehisa (Sota Fukushi). Demi niatan membalas dendam, Rin yang mendapat kabar akan kemampuan hidup abadi Manji, menyewanya sebagai bodyguard dan membantunya menyelesaikan misi balas dendamnya.


Cukup terbayang jika siapapun yang berpikir bahwa "Blade of the Immortal" mirip dengan "Rurouni Kenshin", sepintas tidak salah tapi tidak juga benar. Justru Blade of the Immortal terasa jauh lebih spicy dan gory, melihat banyaknya darah muncrat berceceran, hingga kaki dan tangan yang tampak putus tertebas kian tak berhenti bertebaran di tiap saat. Selayaknya film Takashi Miike yang terdahulu memang kerap menggunakan darah dan sayatan mengerikan semacam film slasher miliknya Ichi the Killer dan Audition yang fenomenal, Blade of the Immortal adalah jaminan bahwa Miike layak dijuluki Quentin Tarantino versi negeri Sakura.

Sayangnya, bagian aksi yang terbilang tampak gila-gilaan dan brutal ini tampak terasa repetitif, meski adu pedang dan tusuk menusuk tubuh yang menancap di badan Manji kian memberi efek rasa nyeri dan ngilu sepanjang cerita, aksi non-stop ini malah kurang menggairahkan. Saya mungkin tidak berbicara soal koreografi keren nan apik seperti "The Raid"-nya Gareth Evans. Hanya saja aksi yang kian padat kurang memorable dan kurang menancap di benak saya setiap kali Manji mengayunkan pedangnya berhadapan dengan petarung-petarung tangguh yang bisa dibilang punya karismatiknya masing-masing. Karena berhadapan dengan linimasa cerita penuh adegan bak-bik-buk tanpa henti, tapi mengedepankan esensi aksi dan kegilaan, tapi tak satupun adegan terasa lebih mendebarkan yang justru dijejali dengan aksi medioker ketimbang epic moment.


Tapi, bagian terbaiknya datang dari script naskah yang menjanjikan. Selama ini kelemahan di tiap-tiap live action yang diadaptasi manga/anime berasal dari naskah yang kurang cerdik merangkum konflik, cerita dan karakter yang diadaptasi. Miike dan penulis naskah yang membantunya Tetsuya Oishi berhasil meramu kesemua hal tersebut dalam sinkronitas yang cantik, menjangkau padatnya alur cerita manga yang jumlahnya 30 volume dalam satu naskah yang brilliant. Hal-hal yang tampak klise seperti motif balas dendam, rasa cinta, perjuangan, kesetiaan, penyesalan dan masa lalu kelam terasa begitu hidup. Dan setumpuk karakterisasi tokoh yang dijejali dalam durasi 140 menit ini cukup solid dan tiap tokoh mendapat peran yang setimpal, meski ada beberapa yang masih kurang menonjol karena keterbatasan durasi dan waktu, tapi Miike masih mampu mempertahankan tiap tokoh untuk berkembang dan jelas tokoh sampingan yang berjibun mendapatkan injeksi seadanya tanpa harus kehilangan identitas.


Takuya Kimura sebagai leading actor cukup berperan baik dengan tatapan matannya yang tajam, meski dengan raut wajah tak ramah dan pelit senyum, tapi kian mengisyaratkan relevanitas latar belakangnya yang gelap. Berpasangan dengan Hana Sugisaki sebagai Rin dan Machi, meski tampak agak kaku saat beradu akting, tapi kerap setiap moment mampu membangun chemistry diantara mereka berdua, dan bahkan tak jarang gurauan dan sedikit kekonyolan malah menghidupkan timbal balik diantara keduanya, membangkitkan sedikit sensitifitas antar tokoh yang ada. Kazuki Kitamura pun tampil cukup menarik, berperan sebagai Sabato Kuroi memancing aura quirky dan sharp, meski perannya tidak terlalu kontras disini. Sota Fukushi yang berperan sebagai antagonis sentris, meski agak timpang, tapi perannya sebagai Anotsu yang berkarakter dingin dan karismatik tetap terangkat, ditambah hubungan misteriusnya dengan Makie Otono-Tachibana (Erika Toda) yang setia padanya, memberikan kompleksitas watak Anotsu sebagai titular karakter yang gila ambisi tapi tetap memiliki penekanan moralitas dan emosi manusiawi yang subtil.

Overall, Blade of the Immortal sangat menghibur, menegaskan sutradara Takashi Miike adalah sineas brilliant dari negeri Jepang yang patut diperhitungkan. Kelemahan dasar film ini hanya terletak pada formulasi utama yang coba ditonjolkan Miike pada bagian action sebagai dasar kekuatan justru jadi kelemahan, apalagi ditambah kebrutalan dan kegilaan yang tampaknya "Mo-brothers" atau "Gareth Evans" jauh lebih greget daripada ini. Tapi, lagi-lagi tanpa script dan transformasi yang sempurna, semua itu tidak akan ada apa-apanya. Sebagai film ke-100 Takashi Miike, ini adalah salah satu adaptasi manga terbaik diantaranya.




๐Ÿ™ถYou're our most unwelcome visitor, and we do not propose to entertain you.๐Ÿ™ท

Secara hukum alam pria mendominasi wanita secara fisik maupun emosi karena dianggap lebih lemah. Pria dan wanita memang ditakdirkan memiliki perbedaan, namun perbedaan tersebut justru mengikat mereka melalui hasrat dan ketertarikan. Sofia Coppola sutradara wanita yang dulu sangat sukses dengan film romance "Lost In Translation" 2007 lalu, mencoba mengekspresikan wujud interaksi antara wanita dan pria dalam wujud yang paling darkly dari sebuah karya film terbarunya, The Beguiled yang artinya "memperdaya", "menipu", "mempermainkan". Film ini sendiri seolah kentara bermain dengan unsur psycho-thriller, dimana atmosfer juga tatanan visual dark dan vintage yang kusam membuatnya terasa sangat kelam.

Bersetting tahun 1864 di kota Virginia, Amerika Serikat atau lebih tepatnya 3 Tahun menjelang perang sipil. The Beguiled bercerita tentang seorang pria misterius tak dikenal, Corporal McBurney (Colin Farrell) mengklaim dirinya adalah tentara yang berhasil kabur dari medan perang sipil. Seorang gadis, Amy (Oona Laurence) yang tengah mencari jamur di dalam hutan menemukannya tergeletak tak berdaya dengan kaki terluka memintanya pertolongan. Amy yang merasa kasihan lalu membawanya ke tempat ia tinggal, sebuah sekolah sekaligus asrama wanita. Tentu saja kedatangan tamu tak di undang, McBurney mengejutkan Miss Martha (Nicole Kidman), guru sekaligus pemilik dan pengurus sekolah, Edwina (Kirsten Dunst) seorang guru tunggal, dan para murid mereka Alicia (Elle Fanning), Jane (Angourie Rice), Mary (Addison Riecke), dan Emily (Emma Howard).


Saya sebenarnya agak bingung mengkategorikan film The Beguiled sebagai thriller suspense, meski seperti yang sudah saya katakan film yang diadaptasi dari novel Thomas Cullinan berjudul sama ini agak terasa kurang menegangkan dan terkesan lebih tipikal. Ya, beberapa faktor kekurangan film ini terutama dari segi narasi cerita yang rasanya menjadi asal muasal film yang mencoba menyulap konflik wanita-pria-wanita terasa lemah. Filmnya hampir terasa datar dan beberapa scene terasa repetitif.

Seperti yang saya tahu wanita-wanita ini berada dalam lingkungan yang jauh dari lingkungan sosial masyarakat kota, beradaptasi dengan lingkungan yang sunyi jauh dari perkotaan, ditambah kecamuk perang sipil yang bergejolak. Rasa paranoid akan keadaan hingga kemunculan sosok McBurney yang identitasnya hanya diketahui dari mulutnya entah benar atau tidak, menambah kecurigaan berdasar, apalagi isu pemerkosaan yang disebut-sebut sering dialami wanita oleh para tentara musuh selama perang semakin membuat sosok pria semakin berbahaya. Tapi, filmnya membaur secara lebih kompleks, kehadiran pria oleh para wanita di film ini memiliki perspektif berbeda saat interaksi dilakukan dengan pria (apalagi tampan) secara langsung dan terbuka, dari yang polos sampai yang genit. Hingga terjadi kedekatan asmara, cinta dan nafsu diantara mereka menimbulkan kecemburuan.


Sayangnya film ini diperburuk oleh naskah cerita, filmnya membingungkan dengan banyaknya kontradiksi yang ada, *SPOILER* semisal identitas McBurney yang samasekali tak pernah diketahui apa ia betul-betul seorang tentara atau bukan, atau perbuatan yang dilakukan Miss Martha sesungguhnya karena paranoid, cemburu atau panik saat memotong kaki McBurney, hingga melakukan pembunuhan keji disertai menyeret para gadis-gadis polos dan tak berdosa untuk melakukan rencana keji tersebut dengan rasa tak berdosa *SPOILER END*. Hasrat dan nafsu yang ditekankan oleh Sofia Coppola terasa lemah dan rasanya Coppola kurang pandai memancing kekacauan dan buruknya pengenalan karakter yang ada. Untungnya akting semacam Nicole Kidman masih mengadiksi melalui tatapan matanya yang tajam, memancing paranoid, otorisasi, penolakan dan kebencian meski kita tahu ia hanya mencoba melindungi para gadis dan sedikitnya selalu bersikap baik dan ramah, entah ia baik atau jahat saya pun kurang mengerti. Kirsten Dunst berlaku pada wanita dewasa yang lemah, mudah diperdaya dan jauh lebih polos dari yang saya duga. Hingga yang tak habis pikir, Elle Fanning tetap harus berkutat dengan akting "liar"-nya selain "20th Century Women" dan "The Neon Demon", but it's okay melihat parasnya yang muda dan cantik, tapi raut wajahnya memang selalu terkesan labil dan sedikit-sedikit horny. Dan Collin Farrell, tipikal pria yang suka memperdaya dan memanfaatkan kelemahan wanita dengan kata-katanya yang manis dan penuh bualan.


Well, saya sempat bingung ketika menyelesaikan film ini dengan penuh tanda tanya, tak mengerti tujuan dari Coppola membuat film ini. Tapi, jika menafsirkan sendiri makna dibalik novel Chullinan sendiri pada dasarnya The Beguiled bercerita tentang manusia dalam sosial selalu merasa bijak dan berperilaku sesuai moral didepan orang lain, memenuhi dan mengajarkan tentang bersikap baik dan sopan, meski itu dalam literasi alkitab maupun buku pedoman, namun ketika dorongan hasrat, cinta dan nafsu memanggil, alam bawah sadar kadang membuat logika menjadi dangkal, hingga sifat manusia yang asli muncul dengan kedok kelemahan dan kebaikan, mungkin dimisalkan para wanita yang diremehkan oleh McBurney. Hanya saja Coppola kurang menggali lebih dalam konflik dan hubungan yang hadir seadanya saja, terkesan Coppola takut mengeksplorasi sisi yang lebih menggigit dari sekedar seorang pria yang mencoba memanipulasi sisi terlemah wanita, meski tata visual vintage terasa cantik dan haunted, sampai tata busana-nya cukup manis untuk ditampilkan. The Beguiled hanya kurang terasa fokus mengalirkan tujuan utamanya, hingga di akhir cerita saya sempat bengong, apakah endingnya hanya begini saja? Jadi apa maknanya?





Film hollywood, korea, blockbuster, tv series atau semacamnya bukan satu-satunya yang saya nikmati di waktu senggang. Anime pun salah satu yang bisa buat saya ketagihan dan lupa waktu. Anime berasal dari adaptasi manga, light novel, game atau anime original yang sangat menarik karena mengusung kreatifitas dan konsep imajinasi tanpa batas (baca: liar) yang membuatnya terus-menerus dibuat tanpa henti.

Meski begitu, bukan berarti anime punya jalinan cerita solid yang semuanya mampu saya telan mentah-mentah, kebanyakan dari anime mengusung cerita yang amat klise, terbatas dan cukup banyak membosankan, kebanyakan dari anime hanya karya inferior yang berasal dari copy-paste karya anime yang lebih popular lebih dulu bahkan ada yang hanya mengedepankan sisi eksploitasi seksual dan gender yang biasa disebut fan-service dan animenya dikenal dengan genre "ecchi". Dan selebihnya, kisah cerita dalam anime pun terkadang biasa saja dan tidak terlalu istimewa, selayaknya autobiografi sang mangaka dengan kisah yang sangat sehari-hari.

Yah meski begitu Anime tetap punya "masterpiece"-nya yang ternyata masih banyak karya anime wajib tonton yang tak boleh disia-siakan. Anime masih punya nyawa untuk tetap bertahan dengan cerita yang kadang keren, pengembangan karakter, hingga hal-hal yang tidak bisa saya dapatkan di film-film konvensional atau film "real" lainnya. Berikut daftar 10 anime yang buat saya terbaik sepanjang masa yang wajib ditonton atau layak tonton.

1. Full Metal Alchemist: Brotherhood
Anime adaptasi dari manga berjudul sama karya Hiromu Arakawa ini bukan hanya bisa dibilang anime terbaik, justru terlampau sempurna (perfect) untuk dikatakan anime tanpa cacat. Ceritanya berkonsep pada manusia yang memiliki kemampuan alkemis (ilmu pengetahuan yang dicampur dengan sihir). Sudut pandang ceritanya berkisah antara dua kakak-beradik, Elric bersaudara, Edward dan Alfonso yang berusaha menghidupkan ibunya yang telah mati dengan kemampuan alkemis terlarang, tapi sayang yang mereka berdua lakukan sia-sia dan menyebabkan tangan kanan sang kakak, Edward lenyap dan tubuh sang adik hilang digantikan melalui tubuh zirah dan tangan mekanik. Agar mampu mengembalikan tubuh mereka seperti semula mereka berdua berpetualang dan mencari tahu tentang batu "philosopher" misterius. Dengan latar sedikit bergaya eropa, FMA:B adalah karya yang buat saya luar biasa dan tak terlupakan. Aksi, petualangan, komedi hingga misteri bercampur aduk dengan atmosfer yang terasa begitu kental, apalagi ditambah scoring dan musik yang bikin bulu kuduk merinding. Tiap-tiap episode murni selalu tak bisa ditebak dan penuh dengan kejutan beruntun menyesakkan. Lain dari itu kisah yang terasa hidup, manusiawi, hingga mempermainkan emosi dan moral sebagai ujung tombak, inilah yang membuat anime ini terasa begitu menabok hati saya karena plot ceritanya sendiri terkesan dinamis dan langka. Dalam waktu 3 hari, dalam 64 episode, satu-satunya anime yang membuat saya bertahan tanpa peduli waktu dan makan. Sebuah anime yang sampai artikel ini dibuat belum satupun anime yang mampu menabok hati saya sekuat ini sampai endingnya pun membuat saya hampir berlinang air mata sangking mengharukan.

2. Hunter X Hunter

Hampir sama dengan Full Metal Alchemist: Brotherhood, ia adalah anime langka adaptasi manga karya Yoshihiro Togashi yang serupa sempurnanya. Kekurangan anime ini hanya terletak pada ceritanya yang belum tamat (bahkan manga aslinya yang sudah lama diluncurkan pertama kali tahun 1998), karena isu sang mangaka yang seringkali hiatus jangka panjang karena beberapa masalah kesehatan. Tapi, HXH adalah anime jenius yang mempertemukan konsep cerita yang cerdas, padat dan unik. Terlebih pendapat saya soal hiatusnya sang mangaka mungkin saja tidak dipakai untuk bermalas-malasan, justru digunakan untuk mencari ide cemerlang dalam membangun cerita dan fokus konflik yang kuat. Anime ini juga penuh kejutan, dan HXH tidak hanya berfokus pada cerita karakter utamanya saja yaitu Gon, melainkan beberapa sudut pandang kompleks tokoh sampingan lainnya pun turut diceritakan. Disamping itu, plotnya cerdik, tidak ada episode basi yang berhasil dimaksimalkan dengan beberapa gesekan konflik yang keren dan playful, tidak serta merta hanya mengandalkan teknis combat battle atau aksi semata, melainkan konteks yang lebih naratif dan manipulatif.

3. Death Note
Beda dengan dua anime barusan, Death Note lebih kepada psychological-crime-thriller dengan sedikit bumbu horror-fantasy. Takeshi Ohba dan Tsugumi Ohba adalah otak yang memberikan konsep otentik nan cerdas dalam menarasikan cerita penuh intrik dan manipulatif seperti Death Note. Saat dua orang paling jenius saling berkonfrontasi, yang satu "L" detektif paling hebat di dunia dan "Light Yagami" remaja sekolah yang tidak saja tampan, tapi orang paling cerdas setingkat nasional. Death Note adalah buku pembunuh paling berbahaya jika nama seseorang ditulis dibuku milik Shinigami (Malaikat Kematian) Ryuk tersebut maka akan mati. Light Yagami adalah tokoh sentris yang membawa pengaruh ambiguitas moral, ketika ia berkata menggunakan Death Note untuk perdamaian dunia dengan membunuh secara massive para pelaku kriminal, sedangkan L mencoba menangkapnya karena aksi pembunuhan. Kelebihan anime Death Note adalah narasi dan penceritaan yang terkesan detil dan tanpa celah, beberapa kali mampu membuat takjub. Kekurangan anime hanya terletak pada perbedaan akhir yang kurang tragis di animenya. Saya yang kontra tentu saja cukup kecewa dengan akhir yang sebetulnya sedikit tidak jauh berbeda dari konklusi aslinya.


4. Yahari Ore no Seishun Love Come wa Machigatteiru
Anime dengan latar belakang school life tentang tokoh pria introvert bukan barang baru di dunia manga atau anime. Mencirikan kebiasaan remaja jepang yang biasa disebut hikkikomori, mungkin ada puluhan dengan konsep cerita yang sama tentang school life ini apalagi berbarengan dengan bumbu harem. Yahari Ore no Seishun Love Come wa Machigatteiru (My Youth Romantic Comedy Is Wrong, As I Expected) mungkin terdengar sangat membosankan seperti judulnya yang terlampau panjang. Tapi, mungkin inilah anime drama yang paling berkesan dan paling mudah dicintai karakter utama dan sampingannya. Kisahnya sederhana dan terdengar klise, Hachiman, remaja tanggung dengan tingkah sinis terhadap kehidupan, pergaulan dan cinta. Penyendiri yang memiliki pandangan nihil soal kehidupan, tapi seorang narsis yang pintar mengkritisi lingkungan sekitarnya. Anime ini sedikit banyak mencoba mencerminkan isu sosial modern dengan cara yang sangat sederhana tapi tidak sampai tahap membosankan, juga tidak berlebihan yang sifatnya justru sama sekali tak menggurui. Anime yang didasari pada light novel karya Wataru Watari ini punya kualitas narasi yang amat cerdas dan satir mengungkapkan kasus diskriminasi gender dan kehidupan muda dengan cara yang sangat santai namun observatif. Sulit untuk menyamai anime yang satu ini, mudah dicintai. Kekurangannya? hanya desain Hachiman yang berubah di season 2, terlalu tampan, lebih suka desain lama yang agak konyol.

5. Prison School
Pada waktu menonton episode perdana saya pikir ini hanya anime bullshit yang di isi sekumpulan remaja tanggung berkelakuan cabul yang penuh dengan pikiran kotor yang suka mengintip celana dalam cewek dan parahnya ingin beraksi untuk mengintip cewek-cewek sekolah mandi dengan rencana bulus dan pintar. Melihat tingkah empat remaja yang lihat mukanya saja bikin enek lalu muncul rasa empati pada karakter wanita yang dilecehkan di anime ini. Mungkin iya mungkin tidak, Prison School mampu menggelontorkan keyakinan saya 180 derajat. Ini adalah anime ecchi-comedy ter-offensif namun juga terkeren dalam linimasa ceritanya yang sangat mixed. Konsep ceritanya yang brutal, porno, eksploitatif, absurd dan tak masuk akal, tapi lambat laun intens menceritakan plot yang sangat cerdas, menegangkan dan twisted. Dibalik parahnya fanservice, tapi Prison School sangat layak dengan gaya kisah semi-detektif dengan suntikan adiksi lelucon kotor yang memang lucu setiap episodenya. 


6. Kuroko no Basuke
Shounen yang paling digemari selain action-fantasy adalah shounen sport, beragam cerita anime dari baseball, soccer, tinju hingga basket sangat mendominasi. Selain Slum Dunk, anime basket paling terkenal adalah Kuroko no Basuke. Ceritanya tentang 5 pemain basket paling berbakat disebut sebagai "Generation of Miracles", sebutan tersebut bukan sekedar kata-kata, kemampuan dari mereka berlima bahkan tidak ada di dunia kita (nyata) selain hanya ada di anime ini. Kuroko dan Kagami adalah murid SMA baru yang bergabung di klub basket Seirin, petualangan mereka dimulai untuk mengalahkan tiap-tiap generasi keajaiban tersebut agar menjadi yang terhebat. Mendengar sedikit sinopsis tersebut mungkin kita sudah tahu anime seperti ini amat klise, tapi jangan salah, keseruan di tiap-tiap episode hingga pertandingan sangat epik, emosional dan mendebarkan. Animasi di Kuroko sangat keren dan desain karakter yang cool dan tampan menjadi daya tarik, meski kadang aksi di lapangan dengan jurus-jurus Kuroko hingga ada istilah "zone" sangatlah berlebihan dan tak masuk akal, tapi semua cukup relevan dan lumayan logis karena di Kuroko tidak ada yang mampu mengeluarkan angin ribut hingga tornado di lapangan.

7. Attack On Titan (Shingeki no Kyojin)
Saya sebetulnya cukup sungkan memberi list pada anime yang belum selesai seperti yang satu ini. Tapi, walau baru berjalan 2 season, Attack On Titan sudah cukup memukau saya dengan aksi plus konsep cerita yang tergolong mendebarkan dan mengerikan. Attack On Titan adalah anime distopia saat manusia harus berlindung di balik dinding besar bangunan dari serangan makhluk misterius berukuran besar, telanjang dan berwujud manusia yang suka memakan manusia bernama Titan. Anime ini bukan saja tentang kisah survival manusia, melainkan kental unsur psikologis dan misteri yang menyelimuti universe Attack on Titan. Anime satu ini tampil hampir tanpa kekurangan, animasi, bobot cerita, hingga perkembangan tiap karakter sangat epik. Banyak hal yang membuat tangisan dan putus asa, hingga sedikit membawa unsur politik dan kekuasaan. Satu hal, saya berharap anime ini mampu menampilkan klimaks cerita yang memuaskan di akhir, tidak bertele-tele dan animenya dibuat sesuai manganya sampai tamat.

8. Clannad & Clannad After Story
Tak banyak anime drama yang saya cintai kecuali setelah saya bertemu dengan Clannad. Meski condong ke arah komedi, romantis dan drama. Anime satu ini cukup mendorong saya untuk terus menonton tiap episodenya yang sederhana, lucu dan hangat. Menonton Clannad seperti saya sedang menikmati animasi ghibli dan film karya sutradara Hirokazu Koreeda dengan desain yang lebih "moe". Meski begitu konflik dan cerita yang diselipkan jauh lebih dewasa tentang kehidupan, keluarga, cinta, sahabat dan hubungan antar manusia dan lingkungan sekitarnya. Meski hanya memiliki sedikit unsur fantasi dan supernatural didalamnya, tapi, Clannad bukan tipikal anime dengan jalan cerita sempit. Anime ini lebih banyak memainkan emosi penonton dengan cerita yang menghanyutkan dan begitu indah, dan tentu saja saya tidak asal-asalan memasukkan Clannad di daftar ini selain karena twist ending-nya yang membuatmu "meledak", eh maksudnya tidak kuat menonton episode-episode terakhirnya dengan klimaks yang kelewat menyayat hati dan membuat rasa putus asa dan depresi.

9. Shokugeki no Souma
Bertemakan hidangan memasak, Shokugeki no Souma membuat saya tahu banyak soal makanan, sehingga cara pandang saya soal makanan yang dulu hanya tahu "lihat-santap-kenyang" sekarang mulai berubah. "Sense of taste" (bahasa saya sendiri) dalam diri saya mulai meningkat sejak menonton anime yang becerita tentang bocah lelaki bernama Yukihira Souma yang bekerja disebuah kedai makanan milik ayahnya. Ketika bisnisnya bangkrut, ia kemudian mendaftar ke sebuah sekolah elit memasak yang dikenal kejam dan hanya mampu meluluskan 10% dari siswanya. Sebetulnya anime ini sedikit disepelekan karena terlihat tampak klise dan jalan ceritanya sangat linear. Salah! Anime ini memang tampak seperti adu pertarungan lewat memasak, tapi begitu menerobos cerita lebih dalam banyak kejutan, keseruan dan ketegangan, selain hidangannya pun selalu membuat lapar. Selain desain karakter yang keren, terutama desain wanita yang kawaii. Shokugeki no Souma bukan sekedar anime tanpa dibekali referensi, menariknya masakan yang ditampilkan oleh anime ini langsung didapat melalui olahan dan resep aslinya.

10. Baka to Test to Shoukanjuu
Jika kamu butuh komedi dari sekumpulan orang bodoh dan orang pintar, anime satu ini patut ditonton. Ceritanya berpusat pada sekolah yang "mendiskriminasi" para muridnya. Mereka dibagi melalui kelas (kasta) A sampai F, para murid digolongkan sesuai nilai ujian mereka. Jika murid itu mendapatkan nilai terburuk, ia akan dimasukkan ke kelas F dengan fasilitas kelas paling hancur dan tak layak pakai, dan kelas A dengan fasilitas bak hotel berbintang mewah sesuai dengan nilai ujian yang mereka hasilkan. Akihisa sang tokoh utama mungkin adalah kebalikan dari Albert Einstein, murid paling bodoh dan polos di dunia, bersama dengan teman-teman sekelasnya, melalui sebuah perangkat sistem sekolah bernama battle summon para murid di izinkan bertarung satu sama lain agar mereka bisa lepas dari kasta terbawah. Anime ini cukup ringan namun cerdas, meski dibumbui lawakan komedi bodoh, ini salah satu anime favorit sebagai school life comedy yang anti-garing.


Demikian anime terbaik yang wajib ditonton, mungkin jikalau referensi anime saya bertambah, saya akan buat lagi di Part 2. Jangan lupa untuk share artikel ini ke teman-teman kalian dengan menekan tombol dibawah. ๐Ÿ˜ƒ

๐Ÿ™ถTalk about something cool, like food or clothes or Joan Didion!๐Ÿ™ท

Instagram seperti kita tahu adalah aplikasi sosial media yang sangat popular, yang bahkan tren tersebut hampir menggeser dua situs sosmed terkemuka yaitu facebook dan twitter. Instagram memang sudah lama menjamur ditengah masyarakat dunia, dan sekarang aplikasi ini makin hari semakin multifungsi, dari sekedar menjadi ajang narsisme, berfoto ria, hingga pamer gaya hidup, sampai-sampai aplikasi satu ini dipakai sebagai ajang mencari ketenaran instan dengan cara yang tak lazim, yang kemudian hal tersebut disebut sebagai "selebgram".

Ingrid Goes West merupakan komedi satir yang jelas-jelas menyindir gaya hidup sosial yang terbelenggu oleh teknologi gadget secara berlebihan, sangat jujur mengemukakan dampak negatif dari perkembangan sosiokultural yang spesifik menyerang psikologis para pelaku karena salah kaprah memanfaatkan teknologi tersebut. Ingrid Thorburn yang diperankan Aubrey Plaza adalah contoh ironi dari korban perbudakan teknologi yang sudah mengakar.


Film yang disutradarai oleh Matt Spicer, beserta penulis naskahnya David Bandon Smith memang mencoba menceritakan kisah "menyeramkan" dibalik perbudakkan teknologi dan aplikasi sosial media bernama instagram. Tidak serta merta menjadi thriller psikologis, tapi dibalut dengan komedi jenaka yang piawai diperankan oleh Aubrey Plaza yang mampu berakting norak dan gila. Ingrid kontan memang gila, semenjak penyerangan terhadap teman dunia maya-nya, Charlotte, ia harus mendekam di rumah sakit jiwa selama beberapa waktu. Keluar dari sana, Ingrid tidak serta merta sembuh dari penyakitnya, malah semakin menjadi-jadi saat ia mengenal salah satu "selebgram" terkenal bernama Taylor Sloane (Elizabeth Olsen), yang membuatnya teradiksi akan gaya hidup Taylor yang sangat sempurna. Tertarik untuk mengikuti jejaknya, Ingrid pindah ke California agar bisa bertemu dengan idolanya tersebut.


Taylor bak king of pop Michael Jackson buat Ingrid. Saya sendiri antara lucu, empati dan sedih, meski dibilang sakit jiwa pun, saya tetap merasa kasihan dengan pola pikir dan hidup Ingrid yang sama sekali tidak punya tujuan hidup, yang hanya tahu bahwa instagram sebagai satu-satunya cara ia bahagia dan keluar dari depresi, minder dan putus asanya selama ini. Lahir dari obsesi, Taylor yang "perfect" dimatanya, seluruh gaya hidup dari makan, tempat nongkrong, status dan segala macam yang diperlihatkan Taylor di instagramnya, mulai ditirunya. Bahkan penampilan dan warna rambutnya pun semakin hari semakin menyerupai Taylor.

Ibarat ironi dalam tawa. Spicer buat saya betul-betul pintar membentuk satir sosial, mengkritisi sehubungan sisi gelap dari teknologi dan pengaruhnya bagi psikologis kadang sulit dijamah dan mudah diabaikan. Selain media instagram yang buat orang sangat kekinian, tapi film ini mencoba mengungkapkan keprihatinan saat dunia nyata dan dunia maya bertukar posisi. Ingrid ibarat sisi keras dari korban penyalahgunaan instagram, yang jauh lebih dalam digambarkan sebagai tokoh dengan gangguan psikis dan depresi, tampak terlihat dari sikap bahagianya (sampai nangis) hanya karena melihat akun instagramnya di follow, bahkan kecenderungan adiktif ini malah menjadi obat (narkoba) bagi Ingrid dari beban masa lalunya selama ini. Taylor pun sama-sama penderita, adiksi karena sikap narsisme berlebihan, racun yang memperlihatkan sentimentil garis halus soal "korban" yang menukar kehidupan nyatanya untuk kehidupan palsunya di instagram.


Ingrid Goes West tidak mungkin berakhir bagus jika bukan buah kepiawaian penulis naskah Bandon Smith yang pintar meracik narasi observatif yang kadang tak sedikit mengkritisasi perilaku instagrammer melalui comparing cerita humanisme batman akan Bruce Wayne yang kadang betul-betul relatable. Selain itu komedi ringan pun cukup membantu, meski tidak terlampau lucu, salah satu yang membantu konsistensi cerita dan komedi adalah akting Aubrey Plaza yang memang sosok komedian wanita yang gencar bermain gila dan tidak waras, Elizabeth Olsen pun cukup mengimbangi chemistry memikat sebagai Taylor, dari sikapnya yang cukup ceria, cool dan berkepribadian sempurna, namun punya latar belakang hidup yang sebetulnya penuh kekurangan. O'Shea Jackson Jr. sebagai Dan Pinto, kekasih khayalan Ingrid, meski aktingnya sedikit biasa saja, anak dari rapper Ice Cube ini sepertinya mulai menjadi rising star hollywood, perannya yang cukup mirip ayahnya ini mulai menguasai bakat ayahnya sejak "Straight Outta Compton." Wyatt Russell sebagai suami dari Taylor yang menjadi tokoh cukup penting untuk membuka masa lalu dirinya dan Taylor. Dan, Nicky (Billy Magnussen) saudara Taylor yang dulunya pemabuk dan brengsek, troublemaker yang cukup memberi kekacauan bagi hidup Ingrid.

Well, Ingrid Goes West adalah sebuah film satir yang mengkritisi dampak dari penggunaan sosial media bernama instagram, ya bukan hanya instagram tapi menyeluruh. Sebuah film yang memenuhi pesan penting soal keterbelakangan sosial dan individu modern. Dikala sebagian orang terhanyut oleh arus globalisasi yang kian menyiratkan pentingnya privasi dan kesadaran moral dari sekedar berperilaku di dunia maya maupun nyata. Buat saya ini adalah gagasan bagus yang patut ditonton, bukan hanya komedinya yang sedikit gila, norak dan konyol, tapi pesan satir tentang krisis globalisasi yang memang sulit dibendung, dan Spicer mengungkapkannya dengan sangat cerdas.


 


๐Ÿ™ถHulk like raging fire. Thor like smouldering fire.๐Ÿ™ท

Bagaimana jika sutradara indie macam Taika Waititi diberi proyek besar untuk menangani film blockbuster macam Thor: Ragnarok. Menyuntikkan unsur cerita, petualangan dan komedi macam "Hunt for the Wilder People" terus membuat semua petualangan sederhana itu dengan bumbu kosmik kental yang menceritakan soal dewa-dewa berkekuatan besar. Di industri Marvel saat ini rasanya kita tak meragukan lagi kemampuan studio besar ini menangani dan memilih tim kru untuk proyek-proyek superhero besar lainnya. Jika dibandingkan dua film Thor lainnya, ini seperti transformasi besar buat kisah solo si raja petir dari Asgard, Thor (Chris Hemsworth). Tentu saja melalui cita rasa berbeda, Thor: Ragnarok seperti film kulminasi epik yang menunjukkan jati diri sebenarnya dari film-film Marvel.

Thor harus terlibat dengan masa lalu kelam ayahnya Odin (Anthony Hopkins) yang dulu pernah mengurung kekuatan jahat bernama Hela (Cate Blanchett) sang 'queen of death' yang berencana menguasai Asgard dan dunia. Tapi, saat Thor mencoba menghentikannya, kekuatan Hela jauh melebihi diatasnya dan membuat senjata andalan Thor pun, palu Mjolnir hancur berkeping-keping. Disaat Asgard dikuasai kekuatan jahat, Thor yang melarikan diri terdampar di sebuah planet 'garbage' bernama Sakaar yang dikuasai oleh pemimpin gila bernama Grandmaster (Jeff Goldblum). Thor yang disekap dan ditangkap oleh seorang wanita Valkyrie (Tessa Thompson), ditengah keputusasaan saat Asgard terancam bahaya, Thor dipaksa menjadi petarung gladiator dan melawan rekan satu timnya di Avengers, Bruce Banner aka Hulk (Mark Ruffalo).


Sebelum Marvel menunjukkan pertarungan epik dengan Thanos di The Avengers: Infinity War, Thor: Ragnarok seakan ingin menunjukkan kapasitas villain sesungguhnya, semenjak kegagalan Ultron yang disangka kuat ternyata lembek, konyol dan memalukan. Kini hadir Hela, sebagai villain wanita pertama sekaligus terkuat dengan menunjukkan taringnya langsung menghancurkan senjata terkuat, Mjolnir. Tidak hanya villain kuat, intimidasi serta momok menakutkan yang berhasil mencuri perhatian lewat akting Cate Blanchett pun sangat menggembirakan, tak ada yang jauh lebih cocok memerankan akting Blanchett saat tatapannya yang kadang seksi pun menyimpan sorot mata tajam yang seakan membunuh.

Bukan Marvel jika tidak memiliki rentetan komedi, memajang Taika Waititi beserta penulis skenario Eric Pearson, Thor: Ragnarok memberi pesona Guardians of the Galaxy dengan cita rasa fantasy sci-fi '70-'80-an. Meski tahu bahwa filmnya bisa sedikit kelam karena berisi disaster dari kekacauan, kejatuhan, dan kehancuran Asgard. Filmnya ternyata lebih ringan dengan tingkah konyol para karakternya. Sehingga jika menginginkan film sedikit lebih serius dan emosional, maka jangan harap filmnya akan membawa gejolak perasaan lebih dalam atau setidaknya lebih menegangkan.


Tentu saya tidak menganggap komedi Thor: Ragnarok jelek, meski beberapa masih juga terasa garing, tapi tetap konsisten untuk menyedapkan pita tertawa saya bergema hingga film berakhir. Tapi, ini seperti 'trigger' yang menghilangkan nuansa atmosferik dan emosional. Meski saya sangat menyukai Waititi tidak menghancurkan penokohan Hela dengan sebuah trik kekonyolan dan terus membuat villain ini tetap sesuai dengan perwatakkannya yang serius, fully-evil dan hot. Tapi, moment by moment lenyap karena terlalu banyak banyolan yang dirasa sedikit mengganggu, membuat saya berpikir apa jadinya jika Thor: Ragnarok tidak memiliki komedi? Maka film ini sesuram jalan ceritanya yang tidak terlalu istimewa.

Tapi, film ini tidak terlalu mengecewakan, Thor: Ragnarok adalah renovasi dan evolusi terbaik dari trilogi Thor disaat banyak yang mengatakan Thor adalah yang terburuk dari film solo superhero lainnya. Universe semakin luas, kemunculan Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) yang sebentar, Loki (Tom Hiddleston) yang selalu identik dengan moralitas ambigu sebagai villain dan saudara Thor, Bruce Banner yang sepenuhnya dikuasai oleh si monster hijau, Hulk dengan tingkahnya yang childish dan polos tapi juga bisa sensitif. Thor, dengan gaya rambut barunya tampak lebih kece', dipotong oleh bukan orang biasa. Dan dua karakter baru yang cukup banyak menarik perhatian, Valkyrie, wanita yang suka mabuk tapi punya segudang rahasia dan latar belakang menarik, Korg (Taika Waititi), monster batu yang sangar tapi suara mirip robot Chappie, dan Grandmaster, pria berusia jutaan tahun yang punya watak aneh dan sangat gila.


Seperti yang saya bilang, Thor: Ragnarok adalah jati diri Marvel sebenarnya. Memanfaatkan semua formulasi yang sudah ada seperti komedi, tema futuristik, comic relief dan semua hal yang sudah tidak lagi menghebohkan, terbilang ini adalah masa kejayaan Marvel Cinematic Universe. Meski tak bisa dipungkiri seperti kurangnya suntikan emosi dan atmosferik yang kental, hingga terlalu bermain aman dalam cerita. Tapi tentu saja berharap The Avengers: Infinity War dan tahun-tahun kedepannya nanti Marvel tidak terjebak dalam situasi yang sama. Karena saya paham bahwa Marvel menyadari kekurangannya, menambalnya berkali-kali, hingga dapat dibuktikan Marvel hingga saat ini belum luput dari kegagalan.

Well, secara keseluruhan Thor: Ragnarok cukup memuaskan, tidak istimewa, tapi sangat menghibur. Setidaknya hal yang membuat saya memuji kesuksesan Waititi dan Pearson terletak pada referensinya, seperti penggunaan komedi yang interkoneksi dengan film Marvel sebelumnya, dan cara mereka memperlakukan para karakter baik jagoan, tokoh kacangan maupun villain dengan sangat baik dan relevan. Dan Hell Yea! mempercayai artis sekaliber Oscar, Cate Blanchett adalah pilihan yang tepat dan menjadi salah satu alasan menonton film yang satu ini, salah satu villain terbaik yang tidak kemenyek dan benar-benar "IMBA", bahkan membuat saya bertanya, apa yang bisa dilakukan film ini untuk mengalahkan dewi bernama Hela, jika dewa Thor sekalipun jadi benyek menghadapinya.