LEMONVIE
๐Ÿ™ถ You take care of a garden, and takes care back. You feed it, it feeds you. Few things in this World operate like that.๐Ÿ™ท

Tangan buntung dan kaki buntung, Arlen (Suki Waterhouse) telah menggambarkan realita kejam dunia distopia yang dihiasi gurun mati dan tandus, untuk seorang wanita muda yang juga tergabung dalam gerombolan manusia terbuang (The Bad Batch), aturan tak berlaku di dunia yang terisolasi di wilayah Texas, Amerika Serikat sehingga menjadikan sifat mereka liar dan gila. Sang sutradara sekaligus penulis naskah Ana Lily Amirpour melahirkan sebuah ambisi cantik dari sekedar film pertamanya "A Girl Walks Home Alone at Night", sebuah kota di Iran yang didalamnya terdapat vampir penghisap darah. The Bad Batch melahirkan dunia yang menghempaskan moral apalagi hukum, saat kaum kanibal adalah hal paling mengancam di dunia yang dilalui Arlen.

Ada beragam rasa saat melewati ide kreatif yang ditawarkan Amirpour, para kaum kanibal yang atletis dan berotot, sampai permukiman kumuh yang disebut sebagai "Comfort", dimana komunitas masyarakat tersebut dipimpin oleh pria eksentrik bergaya retro, The Dreams (Keanu Reeves), menggandeng sederet istri berperut buncit (hamil), suka berpesta di malam hari dengan house music dan menenggak drugs mencari kesenangan. Arlen sebagai fokus cerita awalnya adalah korban mangsa para kanibal, setelah mencoba lolos, ia lalu ditemukan dan ditolong oleh The Hermit (Jim Carrey), seorang gelandangan yang membawanya ke "Comfort", sebuah tempat teraman dari serangan kaum kanibal. Singkat cerita, 5 bulan kemudian, Arlen menuntut balas atas perlakuan kaum kanibal. Hingga dalam perjalanan ia pun bertemu dengan salah satu kanibal bergaya macho-meksiko bernama Miami Man (Jason Momoa) yang sedang mencari Honey (Jayda Fink) anaknya yang hilang.

The Bad Batch memang punya daya tarik sendiri, memancing dunia distopia dalam balutan arthouse yang nyentrik dan aneh, plus alunan soundtrack retro electronic. Plot awal terasa meyakinkan, mengenalkan kita pada tokoh utama Arlen, kehilangan arah dan tujuan, berjalan sendirian di tengah hamparan gurun panas dan tandus, hingga mengawali keganasan Arlen sebagai korban kaum kanibal. Kehilangan satu kaki dan satu tangan, horror dan ancaman telah tereskalasi dengan baik, apalagi kegilaan berlanjut saat melihat sekumpulan pria berotot dan bermuka seram adalah kanibal itu sendiri. Membuat dunia yang terasa ngeri-ngeri sedap, dan juga bagaimana landscape sinematis berhasil ditangkap pada tiap-tiap moment terasa prestisius. kembali mendapuk Lyle Vincent (A Girl Walks Home Alone at Night) yang berhasil memvisualisasikan dunia yang statis lagi suram terasa cantik dan indah.


Sayang, langkah narasi tidak secantik wajah Suki dan segala aspek artistiknya, dasar cerita yang ingin disampaikan Amirpour mulai terlihat cacat, saat Arlen bergerak dengan motif balas dendam tanpa dasar yang kuat. Pertemuannya dengan Honey, hingga mencuat hubungan tak kasat mata antara Arlen dan Miami Man, mulai mempengaruhi tujuan yang saya pikir Amirpour memberikan tidak sekedar cerita aksi dan gila semacam "Mad Max: Fury Road". Tapi, menampilkan bahwa manusia tanpa belas kasih pun masih memiliki "cinta" dan "kasih sayang" untuk dilindungi. Tapi, ini lebih dari sekedar banyaknya kejanggalan cerita, mencuat segala aksi tanpa toleransi, hingga ketidakmasuk akalan gerak-gerik dilakukan Arlen tanpa intelektual. Keanehan, absurditas hingga keseimbangan tiap konflik tokoh sama sekali tidak koheren, semua tampak aneh dan konklusi akhirpun tanpa rasa heran semakin memberi rasa beban menonton, menghubungkan soal "cinta" dan "tujuan".

Dilandasi kegilaan, distopia dan carut-marut moralitas, tapi sedikitpun adegan brutal tidak lebih dari Miami Man memotong daging manusia seperti memotong daging sapi, lalu disantap seperti barbeque di siang hari. Filmnya tak segila yang dibayangkan, bahkan beberapa kali menelantarkan peran macam Keanu Reeves, tanpa mengerti apakah ia betul-betul jahat atau baik yang pintar berkata bijak dan berfilosofi. Giovanni Ribisi pun demikian, pria autis yang selalu teriak-teriak tak jelas di Comfort, memancing kegaduhan dan kebodohan tapi sama sekali tak penting untuk dilihat. Mungkin salah satu yang cukup menarik, Jim Carrey, laksana gelandangan bisu, yang kadang bersimpati dan berperilaku konyol di depan Arlen dan Miami Man, meski akhirnya perannya tak sejalan dengan rasa empati yang dimilikinya, cenderung juga tokoh tak penting.


The Bad Batch, memang sepenuhnya film dengan porsi cerita yang dangkal, alih-alih pintar pun sedemikian buruknya, Arlen dengan tipikal heroine yang kebingungan mencari arah dan tujuan, sama dengan bingungnya Amirpour menentukan perwatakan, konflik hingga emosi tokoh untuk meningkatkan dramatisasi dan juga simpati kita pada Arlen yang juga minim identitas siapa dia sebenarnya, dan kenapa ia bisa dibuang. Meski dibalik itu, Suki cukup terampil membuat tatapan yang kuat dan indah, dengan segala kelemahan dan cacat tubuhnya di dunia yang jelas keras dan tak berperkemanusiaan, bahkan mengalahkan tubuh sixpack Jason Momoa yang kuat dan indah.

Cinta dan ketertarikan dalam hembusan dunia penuh bad batch dan immoral, tapi sayang ini tidak terlalu indah untuk terealisasi. Meski saya cukup punya bayangan keren soal hubungan antara si Arlen dan Miami Man, bagaimana rasa benci dan canggung itu berbuah cinta dan petualangan yang mempertemukan keduanya antara si kanibal jahat penuh cinta dan si korban yang penuh kebimbangan tanpa ambisi. Tapi, ini tidak cukup, terlalu banyak kebodohan dan pesan filosofis tak karuan. Perkembangan karakter yang lemah, meski filmnya jika ditilik secara visual dan audio memang terasa eksentrik dan cantik. Pada akhirnya The Bad Batch hanya cita rasa coca-cola yang sengaja dicampur dengan minyak kayu putih, segar di awal namun menyengat dan membuat mual di akhir.




| Director |
Ana Lily Amirpour
| Writer |
Ana Lily Amirpour
| Cast |
Giovanni Ribisi, Jason Momoa, Jayda Fink, Jim Carrey, Keanu Reeves, Suki Waterhouse, Yolonda Ross
| Studio |
NEON
| Rating |
R (for violence, language, some drug content and brief nudity)
| Runtime |
118 minutes (1h 58min)



OFFICIAL RATING | THE BAD BATCH (2017)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes
๐Ÿ™ถ All the actors I know are self-centered and insane.๐Ÿ™ท

Kumis ikonik, suara emas, rendah hati dan juga humoris, deskripsi kecil dari sosok grandpa berkepala tujuh namun punya enchantment luar biasa. Hayden Lee (Sam Elliot), dulunya aktor terkenal yang sempat menjadi legenda di film koboi era '70-'80-an. Diusianya yang tidak lagi muda dan pamornya sebagai aktor telah usai, Lee menghabiskan sisa hidupnya sendirian, ditemani ganja dari seorang drug dealer bernama Jeremy Frost (Nick Offerman) yang juga dianggapnya sebagai sahabat. Selain telah bercerai dengan istrinya Valerie (Katharine Ross) ia pun sempat tidak akur dengan anak perempuannya Lucy Hayden (Krysten Ritter). Kehidupannya mencapai puncak kritis, ketika Lee di diagnosa mengidap kanker Pankreas yang membuat hidupnya terancam, mengalami putus asa hingga berusaha menyembunyikan deritanya terhadap orang terdekatnya. Namun, Charlotte Dylan (Laura Prepon) seorang wanita muda yang dikenalnya lewat transaksi ganja, mulai membuatnya terpikat dan Charlotte akhirnya mengisi kehidupannya yang suram.

Mendapuk Elliot di film kedua Brett Haley memang bukan suatu kebetulan. Sebelumnya mereka berdua pernah berkolaborasi di "I'll See You in My Dreams" sebagai karakter sampingan. Kesan sebagai grandpa gentleman, membuat Haley terinspirasi dari sosok yang digambarkan oleh kepribadian Elliot sendiri, tentu dengan penempatan tokoh yang lebih sentris. Elliot memang pada puncaknya, eksis sebagai pria tua yang beruban, ia tampil sempurna, kendati suara beratnya menjadi ciri khas yang terdengar cool.


Memang tidak aneh, kekuatan The Hero terletak dari pesona Elliot, mengiringi perjalanan kisah sebagai mantan aktor berbakat yang kemudian penuh dilema di masa tua, bukan hanya penyakit, tapi juga hubungan dengan keluarganya. Kesan sebagai pecandu ganja, penyendiri, meski sepintas tampak periang, hidupnya tergolong suram. Haley memang ingin antusias menggerakkan situasi masa tua dalam perjuangan hidup mereka, dilema yang juga terasa di film pertamanya  "I'll See You In My Dream", dari seorang wanita tua yang berpijak pada keinginan hidup single tapi berkontemplasi mencari makna hidup sejati.

The Hero juga punya drama romansa yang memikat, dan panggung utama tentu saja kisah cinta antara Lee dan Charlotte. Elliot, perfection in imperfection, yang lugas memantapkan dirinya sebagai pria loveable yang gampang dicintai, karakterisasi kuat dan dalam, hingga saya tidak merasa risih tentang cinta beda umurnya dengan Charlotte, dengan kisah yang tak dipaksakan namun tetap terasa hangat dan begitu dewasa.

Tapi, sayang The Hero kurang mantap dalam bercerita, mengemban esensi emosi tapi tampak meleset dengan jalinan konflik yang ada. Apalagi semua yang ditampilkan oleh naskah Brett Haley dan Marc Basch terlalu klise, alih-alih sentimentil pun permasalahan dalam ruang lingkup kehidupan dan masa lalu Elliot hanya sekenanya, menggulirkan kontemplasi permasalahan hidup Lee sembari mencoba kembali memperbaiki setiap kesalahan yang pernah ia buat. Membuat saya sedikit sekali mengerti masalah yang terjadi bahkan antara Lee dan Lucy sekalipun, sampai pada garis konklusi yang rasanya tampak dipaksakan di bagian soal hubungan Lee dan Charlotte, semua hanya ambisi Haley memberi cinta, tapi tidak sampai pada klimaks yang emosional.



| Director |
Brett Haley
| Writer |
Brett Haley, Marc Basch
| Cast |
Sam Elliott, Laura Prepon, Nick Offerman, Krysten Ritter, Katharine Ross
| Studio |
The Orchard
| Rating |
R (for drug use, language and some)
| Runtime |
93 minutes (1h 33min)



OFFICIAL RATING | THE HERO (2017)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes
๐Ÿ™ถ Shame isn't a strong enough emotion to stop us from doing anything at all.๐Ÿ™ท

Tindak kekerasan dan pemerkosaan sudah pasti jadi momok menakutkan bagi kaum wanita. Hal ini wajar, secara kejiwaan, korban akan mengalami gangguan mental hingga mengakibatkan trauma berat berkepanjangan. Tapi, Elle memutarbalikkan persepsi diatas, saat karakter wanita paruh baya bernama Michele Leblanc (Isabelle Huppert) merefleksikan ambiguitas moral, mempertanyakan sepetak pikiran dan karakterisasi penuh komplikasi. Sehingga, dugaan saya meleset soal film "raped and victim" yang merujuk pada tema balas dendam atau semacamnya (bayangan liar saya soal film sadis "I Spit On Your Grave"), atau juga terror home invation ala film-film Alfred Hitchcock. Justru lewat karya sutradara Paul Verhoeven ini, saya menemukan fakta aneh bahwa "ironi tragedi" dalam kasus utama film ini dianggap wajar oleh si korban alias si tokoh utama.


Michele adalah CEO sebuah developer game terkemuka. Kehidupan sosial Michele memang tidak begitu manis, berbagai gejolak hubungan antar keluarga, teman dan anak buahnya di kantor pun menjadi bibit permusuhan. Anaknya, Vincent (Jonas Bloquet), pria canggung dan kekasihnya Josie (Alice Isaaz) yang kasar dan seenaknya saja. Richard (Charles Berling), Ex-husband Michele mulai terlibat hubungan baru dengan wanita cantik dan muda, Helene (Vimala Pons). Robert (Christian Berkel), pacar gelap Michele yang ternyata suami dari sahabatnya Anna (Anne Consigny). Irene (Judith Magre), ibu Michele yang sakit-sakitan coba bertunangan dengan pemuda yang lebih muda darinya. Dua tetangga yang ramah tinggal berseberangan didepan rumahnya, Patrick (Laurent Lafitte) dan istrinya Rebecca (Virginie Efira). Dan juga masa lalu kelam Michele sehubungan ayahnya yang dianggap psikopat sekarang sedang mendekam di penjara.

Berbagai perspektif lengkap tokoh muncul menimbulkan riot, mencoba merelasikan setiap masalah dengan peristiwa yang menimpa Michele. Tapi, masalah bukan disitu saja, film adaptasi novel karya Philippe Djian berjudul "Oh..." ini memang menjebak kita melalui kasus perkosaan, menerka pelaku, hingga teror mengintai diri Michele bak film-film detektif pintar. Berkonsentrasi melalui deskripsi sang tokoh utama, bermain-main dengan persepsi karakter, mencampur rasa empathy, curiga dan amoral, menimbulkan pertanyaan "kenapa" dan bukan "siapa" yang memperkosa Michele. Memperhitungkan apakah Michele patut mendapatkannya atau sebenarnya memang ia korban seutuhnya?


Nama Paul Verhoeven memang mengejutkan saya, rupanya dia dibalik dua cult classic populer "Robocop" dan "Total Recall" yang bahkan kesuksesannya telah di remake ulang. Lain dari itu pun konten seksual dan nudity bukan barang baru bagi sutradara berdarah Belanda ini, "Basic Instinct", dan juga raped theme "Hollow Man" pun turut membuat saya semakin dekat dengannya. "Black Book" pun tak kalah gilanya, menjual "kehormatan" demi "nyawa", hingga mendarat dalam salah satu film Prancis pertamanya, Elle pun sukses menyajikan pscyhological drama yang membingungkan tapi gila. Dilema berakting dari sekedar telanjang, diperkosa, obscene behaviour, ketelanjangan hingga sampai dipermalukan, saya rasa Isabelle Huppert patut mendapatkan "two thumbs" sebagaimana Elle adalah karir terbaiknya. Dimana artis-artis hollywood yang pernah ditawari Verhoeven pun menolak peran dengan alasan yang saya rasa sangat-sangat wajar ditolak, dan Huppert berani melakukannya.

Identik dengan "kontroversi", Elle memang bukan film yang alurnya mudah ditebak, bukan masalah jika saya sendiri sudah tahu siapa pelaku-"nya". Film yang juga ditulis naskahnya oleh David Birke memang lebih mengedepankan esensi provokatif, kesannya menonjolkan sisi kotor dan eksploitasi seksual, berulang kali hingga menemukan olokkan yang sifatnya humiliate. Meletakkan akting Isabelle Huppert yang juga totalitas, saya pun sedikit membayangkan karakter satu ini dikesankan sebagai wanita obscene, tapi dibalik itu juga pikiran saya diguncang kembali oleh plot sehingga menimbulkan kontradiksi di akhir, menyatukannya dengan obsesi sampai ke sadomasokhisme yang gila. "Good" or "Bad", semua tergantung persepsi masing-masing mendefinisikan sang wanita bernama Michele, impulsive, dirty, ambiguous, odd and complex.



| Director |
Paul Verhoeven
| Writer |
David Birke
| Cast |
Anne Consigny, Charles Berling, Isabelle Huppert, Judith Magre, Laurent Lafitte, Jonas Bloquet, Alice Isaaz, Christian Berkel
| Studio |
SBS Productions
| Rating |
R (for violence involving sexual assault, disturbing sexual content, some grisly images, brief graphic nudity, and language)
| Runtime |
130 minutes (2h 10min)



OFFICIAL RATING | ELLE (2016)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes


Ditempat paling kecil, sunyi dan sempit sekalipun manusia akan temukan apa yang disebut kebahagiaan. The Red Turtle aka La tortue rouge mungkin semacam metafora kehidupan, selain memandang bahwa ada sebentuk life survival manusia ditengah keputusasaan dan kesepian. Selepas sang legenda Hayao Miyazaki pergi meninggalkan kursi sutradara, eks-partner studio Ghibli kemudian tertarik memanggil Michael Dudok de Wit untuk mengangkat animasi mereka ke layar lebar, menyukai salah satu film pendeknya berjudul Father and Daughter (2000). Akhirnya diputuskan de Wit mengarahkan film Ghibli pertama untuk versi non-Jepang bersama studio besar lainnya, Wild Bunch.

Bersamaan dengan hype besar film animasi Your Name, ditahun yang sama, nama The Red Turtle mungkin tidak terlalu menggema dibanding rivalnya yang sukses di box office Jepang tahun 2016. Tapi, disisi lain film ini sukses merangkak ke nominasi Oscar pada kategori "Best Animated Feature Film" mengalahkan karya Makoto Shinkai, yang lagi-lagi studio Ghibli harus berbangga hati meski lepas dari maestro-nya, karya mereka tetap diminati oleh para juri Oscar.

Mungkin jangan dulu membayangkan kisahnya mirip "Cast Away", Robert Zemeckis, memang kisahnya soal pria "tanpa nama" terdampar dan terisolasi disebuah pulau tropis tak berpenghuni, tapi ini bukan sebuah kisah survival berjuang bertahan hidup, melainkan tentang makna dibalik hidup, keluarga, cinta dan alam yang indah tempat manusia bernaung. Hingga takdir mempertemukan pria tersebut dengan seekor penyu merah, mengubah hidup pria itu untuk selamanya.


Film ini dibungkus dengan animasi sederhana dan apa adanya, tekstur warna dan sketsanya lebih mirip buku gambar. Tidak seperti animasi Ghibli biasanya, penuh dengan fantasi, imajinasi dan dunia tanpa batas dari realisasi penuh warna dan karakter yang sangat unik dan aneh. The Red Turtle tampil minimalis, hanya potret pria dewasa normal dengan baju putih lusuh dipakainya, sesekali semacam anjing laut, kepiting bayi, burung, hingga dipastikan penyu yang hidup di pulau tersebut hanyalah comic relief tanpa embel-embel sihir dsb. Tapi, tentu saja sentuhan animasinya tetap luar biasa, menangkap setiap moment seperti sunset, langit bintang, dan berbagai animasi yang terkesan natural begitu tertangkap mata kita. Dan sesekali juga lewat mimpi dan delusi si "pria" yang kalut karena kesepian pun semakin memberi dinamika animasi yang dilihat dalam secarik kertas tampak statis tapi surprisingly ini panorama indah dan luar biasa cantik.

Filmnya tanpa dialog, entah karena ekspresi dari de Wit yang notabene pembuat film pendek, hanya terdengar sayup-sayup sekedar panggilan, "heiii". Tapi, sentuhan tersebut menambah penyampaian film yang tampak lebih membumi, tanpa harus berjibaku membentuk dan mengenal tokoh dengan dialog yang cerewet ataupun corak cerita yang rumit. Bersamaan dengan Pascale Ferran membantunya menulis naskah, The Red Turtle menyampaikan kesubtilan soal kehidupan, keluarga, dan cinta, hingga hal-hal membawa secarik kisah fantasi dan soft fable. Mengurai fase kehidupan panjang sampai masa tua, seolah konteks masalah yang dihadapi sang "pria" dalam kebuntuan, kesepian dan kesulitan di awal, hilang sekejap tumbuh mengenal cinta dan keluarga menjadi solusi dan harapan. Entah kamu ada diperbatasan hidup paling rumit dan sukar sekalipun, hingga datang masa-masa paling putus asa, ini seolah gambaran realita dalam metafora soal kehidupan. Bahkan sketsa Tsunami yang menerjang pulau pun seakan menggambarkan realita peristiwa tak diinginkan dalam hidup.

Filmnya indah dan luar biasa, hingga di penghujung akhirpun secara sentimental membuat kita sadar, ada sesuatu yang menghilang saat orang-orang yang kita cintai menghilang dan pergi begitu saja, Menggambarkan betapa hidup adalah proses yang sama, "lahir", "hidup", "mencari", "tua" dan "mati". Menyiratkan pasang surut hidup seperti bagaimana sang pria pertama kali hidup kesepian dan melarat ditengah pulau, berubah sebagaimana sosok wanita yang ia cintai merubah segalanya. Filmnya sederhana, tapi tetap menyampaikan materinya begitu kuat dan menyentuh sebagaimana film-film Ghibli, meski terdapat banyak metafora yang kurang lebih sulit dicerna karena filmnya pun tidak dibentuk dengan istimewa, tapi ini murni bahwa, "Keajaiban adalah realita kehidupan dan proses mencari makna hidup yang bisa dicari seorang manusia dibawah batu sekalipun."



| Director |
Michael Dudok de Wit
| Writer |
Michael Dudok de Wit, Pascale Ferran 
| Studio |
Studio Ghibli
| Rating |
PG (for some thematic elements and peril)
| Runtime |
92 minutes (1h 20min)



OFFICIAL RATING | THE RED TURTLE (2016)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes
๐Ÿ™ถ I'm waiting for someone.๐Ÿ™ท

Hantu, laksana entitas misteri yang takkan terjawabkan, apakah mereka hidup sama seperti kita atau samasekali berbeda. Ada yang menyebutkan mereka adalah arwah penasaran manusia yang telah mati, ada juga yang mempercayai sebagai sosok jin atau setan. David Lowery (Ain't Them Bodies Saints, Pete's Dragon) memilih sosok hantu berasal dari eks-manusia yang telah mati, jauh dari kata horror, film bertajuk perjalanan hantu melewati garis ruang dan waktu antara kehidupan dan kematian, ini sebuah karya orisinil, selain membawa sudut pandang hantu yang biasanya menjadi objektifikasi film horror yang guna menakuti penonton dengan penampakan seram lagi menakutkan. A Ghost Story lebih bermakna soal drama pencarian dan kehilangan, entitas yang seolah terlupakan dan tersesat di dunia yang tidak lagi dimilikinya.


Sebut saja C (Casey Affleck) hidup bahagia bersama kekasihnya M (Rooney Mara) yang tinggal disebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Tapi naas kejadian tak terduga menimpa C yang saat itu sedang mengendarai mobil pribadi miliknya, mengalami kecelakaan sehingga nyawanya tak sempat lagi tertolong. C yang sudah meninggal dan jasadnya terbujur kaku, bangkit kembali namun dalam wujud yang berbeda, menggunakan kain putih disekujur tubuh dengan kedua lubang mata hitam di kepalanya, ia kembali ke rumah kekasihnya yang sekarang tinggal sendiri di rumah bekas tempat mereka tinggal berdua, mencoba mencari tahu dan berinteraksi.

Melalui persentasi, absurditas hingga kental akan nuansa arthouse, A Ghost Story memang hanya disajikan untuk penonton minoritas. Apalagi berharap ini akan menyajikan horror mencekam layaknya "Insidious" atau "The Conjurung", jangan harap, mengingatkan saya juga dengan salah satu indie horror dari negara Iran "A Girl Walks Home Alone at Night" menggapai orisinalitas dan element classic yang dipuji kritikus. Lowery mengajak kita mengenal dunia yang sering dibayangkan oleh banyak orang soal kehidupan setelah mati, kesepian, kehilangan, kesesatan, dan kekosongan tanpa terbayang bahwa di alam berikutnya tanpa sadar waktu terus berotasi, orang-orang yang kita cintai telah pergi dan tak mengingat kita lagi, dan kita bukan siapa-siapa sementara menjadi hantu eksis dalam kehampaan dan ketiadaan tanpa ujung.



Penekanan drama dalam dua dunia yang saling bersinggungan meski eksistensi hantu tak mampu dilihat dan dirasakan oleh manusia (hidup), tapi secara cerdik Lowery membentuk alasan yang kemudian menjadi ironi dan dilema. Ada emosi ketika sebait rasa disampaikan melalui M dalam ratapan duka dan lara menangisi sang kekasih, padahal didekatnya hadir hantu C yang hanya mampu melihatnya dari sisi lain, tak bergeming. Melalui bungkusan kain, mungkin sulit merasakan emosi hantu, selain hal tersebut berdampak menjadi kekosongan tak bernyawa, tapi bukan berarti tak nampak, sesekali kita ikut merasakan sentimental melalui perilaku yang kadang "Mungkin jika piring, bingkai foto, jatuh dan pecah, hantu sedang marah".

Filmnya memikat secara aneh, pesannya menyampaikan bahwa dunia kematian pun sama dengan kehidupan, mencari tujuan dan harapan selain eksistensi mereka di dunia pun begitu panjang. Memberikan jawaban tentang "Kenapa rumah itu berhantu?", "Kenapa hantu itu usil dan jahat?", "Kenapa hantu didefinisikan sebagai entitas roh yang gentayangan dan mengganggu?" dan "Kenapa hantu selalu ada, dan tak menghilang dari kehidupan manusia?". Ya, bukan itu saja, film ini pun mencoba melodramatis dalam keheningan, kehampaan jadi dilema, dalam kurun waktu yang begitu panjang, eksistensi hantu pun menjadi mengerikan, melewati evolusi kehidupan dan zaman, sementara eksistensi mereka pun tetap statis. Tapi, sayang menemukan kisah yang saya harap linear pun berubah menjadi janggal, menciptakan jenis realita dalam cerita ruang dan waktu pun menjadi terasa aneh. Meski ini tidak seaneh "2001: A Space Oddysey" atau "Interstellar", ini tidak terlalu cantik untuk sebuah narasi yang magis dan haunting dengan pendekatan yang lebih realistis, terkesan dalam simpul yang aneh.


Tapi, ini tetap persentasi yang luar biasa, emptiness dalam visual arthouse yang luar biasa, bagai lukisan gerak yang menjerat melalui garapan sinematografer Andrew Droz Palermo. Meski kadang beberapa bagian diambil dengan take long shot yang lama, bahkan adegan Rooney Mara yang makan kue pie sambil menangis hampir terasa 2 menit lebih berjalan tanpa cut, tapi hal ini sukses mendekatkan emosi penonton pada para tokoh, melalui kehangatan, kepiluan dan keheningan, juga Daniel Hart menggubah aransmen musik yang kadang dari sayatan biola yang melirih, ataupun musik tempo yang kadang mampu membangun atmosfer terasa mencekam.

Sebetulnya garapan Lowery terasa luar biasa, kala ia pun selalu berani merangkul kisah yang sulit di terima kaum generik, semenjak Pete's Dragon, dari adaptasi kartun Disney yang kurang sukses, namun ia garap sebaik mungkin dengan "hati". A Ghost Story, dengan budget kecil, meski tahu filmnya takkan hype besar-besaran, melalui sentuhan art cinematic dan keindahan visual yang luas, mempertaruhkan penghasilan daripada kecintaan. Tapi, melandaskan kisah hantu diantara ruang dan waktu, ini tidak terlalu istimewa sebagai karya orisinil, meski konklusi akhir menjadi nyawa film yang tersampaikan kuat, tapi linearitas menjadi imbas kekecewaan. Merubah rasa suka saya menjadi emptiness total, meski A Ghost Story tetap film yang cukup berbeda dan tetap memiliki "hati" didalamnya.



| Director |
David Lowery
| Writer |
David Lowery
| Cast |
Rooney Mara, Casey Affleck
| Studio |
Ideaman Studios
| Rating |
R (for brief language and a disturbing image)
| Runtime |
92 minutes (1h 32min)



OFFICIAL RATING | A GHOST STORY (2017)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes