"Kids these days are really spoilt... its like 'mummy, I want a playstation, mummy, I want you to kill that man'."

REVIEW:

Dengan pemeran utama film ini menggunakan seorang wanita hamil sungguhan yang perutnya telah membengkak, apa yang dilakukan Alice Lowe yang pamornya naik setelah berperan dalam film-film komedi british seperti Hot Fuzz, Sighteers, The World's End dan beberapa film lainnya. Lowe yang tengah hamil 8 bulan tersebut sepertinya mendapatkan ide atau inspirasi yang menurut saya cukup gila untuk membuat film bertajuk Prevenge ini, yang menurut saya mungkin merupakan plesetan dari Preganant-Revenge. Karena memang dia sendiri yang bertugas menulis naskah cerita sekaligus menyutradarai film debutannya ini. Dengan tugas ganda yang ia lakukan selain harus membawa bayinya kemana-mana, saya cukup beri apresiasi besar bagaimana kondisi dalam dirinya sendiri mampu menjadi premis unik dalam penceritaannya.

Memang tidak jarang jika sebuah cerita yang menyangkut aksi balas dendam akan menuai beberapa adegan pembunuhan sadis dan slasher. Dan Prevenge memperkenalkan aksi berburu dan membunuh yang terbilang unik, hal yang keluar dari pikiran saya tentang tak logisnya seorang ibu-ibu yang tengah hamil bernama Ruth (Alice Lowe) tiba-tiba melakukan beberapa pembunuhan yang terbilang sadis. Dan hal mengejutkan tersebut hanya beberapa menit sejak film ini dimulai dari aksinya menggorok leher seorang pria yang bekerja di sebuah pet-shop. Gaddem dip sit's woman! dan kemudian berlanjut pada korban-korban selanjutnya dengan sederet misteri yang terbongkar dengan short pieces of flasback sebagai motif utama Ruth melakukan hal gila tersebut.

Terbilang dengan susunan cerita yang relatif cukup sederhana, bahkan hanya dengan modal subtitle bahasa inggris (film pertama saya menggunakan subtitle bahasa Inggris), cerita Lowe dibuat gampang dimengerti dengan alunan cerita yang sunyi dengan musik latar yang minimalis, meski sebetulnya kesan boring nya cukup terasa. Apalagi aksi membunuh Lowe ini sekedar pembunuhan biasa tanpa sebuah pola kreatif yang menghibur ala Jigsaw, Hostile, atau Final Destination yang terus-menerus terlihat tampak repetitif dan kurang cerdas. Bahkan ketika hal-hal logis tampak sengaja ditanggalkan Lowe guna mempermudah aksi Ruth membunuh daftar buruannya tanpa harus berurusan dengan saksi maupun aparat penegak hukum.

Tapi, semua itu justru terasa sangat menghibur hingga melupakan sisi logis film ini tatkala cara Lowe mengemas setiap aksi gila Ruth ini menjadi lebih menyenangkan dan dark comedy. Mungkin tampak apa yang dilakukan Ruth hanya sekedar menggorok, menusuk hingga mengiris alat vital seorang pria terasa biasa saja menjadi lebih gila dari sekedar cara membunuhnya yang tampak alami. Kesan yang ditimbulkan oleh Ruth disini adalah caranya mendekati setiap korbannya lalu sedikit demi sedikit sang korban terperangkap dalam tipu dan sandiwara Ruth, hingga akhirnya ia menghabisi korbannya dengan cara yang frontal, sadis bahkan konyol yang sempat membuat saya tertawa geli melihat pembicaraan dan perkelahian Ruth dengan salah satu korbannya Len (Gemma Whelan) sebelum ia pun membunuh Yara Greyjoy tersebut menjadi salah satu momen terkonyol dan terbodoh dalam aksi pembunuhan berantai itu.

Selain itu juga kondisi psikis yang mempengaruhi kondisi fisik dan mental Ruth saat ia harus bercakap-cakap dan mendengarkan bisikan-bisikan ghaib seperti suara gadis kecil yang disadarinya berasal dari janin dalam perutnya menjadi salah satu penyebab dan alasan mengapa Ruth berani untuk mengambil tindakan nekad dan gila untuk membunuh orang-orang tersebut. Seolah mengatakan bahwa Ruth bukanlah wanita psikopat yang sepenuhnya dibutakan oleh dendam dan amarah, melainkan bisikan jahat yang menghasut dan mempengaruhinya dari ibu-ibu yang sederhananya mungkin dulunya normal menjadi seorang ibu-ibu sadis yang tanpa ampun membunuh orang-orang tanpa meninggalkan rasa trauma dan sedih.

Well, secara keseluruhan film ini cukup menyenangkan dan menghibur untuk ditonton, dan saya pun hampir menyukai apa yang dihadirkan Lowe menghadirkan kisah pembunuhan berantai yang sederhana dengan bumbu komedi gelap di dalamnya. Meskipun pada akhirnya di tahap akhir cerita saya sangat kecewa bahwa ia tidak memberikan jawaban atas kepuasan kita menonton Ruth membunuhi tidak saja Yara Greyjoy, bahkan sempat ia sempat membunuh Lysa Aryyn haha (jika kamu suka menonton Game of Thrones), maksud saya Elle (Kate Dickie) dengan penutup yang justru tidak sampai tahap kesimpulan dan menggantinya dengan adegan yang tampak menggantung, murahan dan bodoh.

πŸŽ₯ Director | Alice Lowe
πŸŽ₯ Writer | Alice Lowe
πŸŽ₯ Cast | Alice Lowe, Gemma Whelan, Kate Dickie, Tom Davis
πŸŽ₯ Studio | Western Edge Pictures
πŸŽ₯ Rating | NR
πŸŽ₯ Runtime | 88 minutes (1h 28min)



OFFICIAL RATING | PREVENGE (2017)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes
"You may not want to wake up tomorrow but the day after that, might just be great."

REVIEW:

Di saat generasi aktor dan artis baru yang begitu banyaknya mengisi panggung dunia industri perfilman Hollywood saat ini, namun sepertinya tidak sedikit pula generasi lama semacam Arnold Schwarzenegger maupun Sylvester Stallone mampu tetap bersaing dalam puncak popularitas untuk mendapatkan peran sentral dalam sebuah film. Seolah tiada kata uzur dengan kemelut umur yang sudah tidak lagi muda, tapi para senior film action ini tetap punya daya tarik sendiri saat mereka sedang berlaga. Dan tentu saja salah satu dari mereka yang masih eksis hingga sekarang meskipun acapkali popularitasnya kurang sebanding dengan kedua rekannya tersebut, Mel Gibson sepertinya tidak boleh dipandang sebelah mata tidak hanya kemampuannya dalam urusan laga action, tapi juga kemampuan aktingnya yang mumpuni, dan lebih dari itu kemampuannya dalam penyutradaraan.

Lewat film terbarunya "Blood Father" ini Mel ditantang kembali lewat perannya sebagai seorang ayah bernama Link. Seorang pria mantan narapidana yang baru saja dibebaskan bersyarat dari sel tahanan selama 17 tahun untuk mencoba hidup bersih dan tenang dalam sebuah trailer sekaligus bekerja menjadi tukang tato untuk meninggalkan dunia kelam dan kerasnya dulu serta berusaha berhenti menjadi pecandu alkohol selamanya. Karena telah bebas dari penjara Link berusaha untuk menemui anak perempuannya yang hilang untuk dapat kembali bertemu dengannya setelah sekian lama ia rindukan, namun siapa sangka Link segera mendapatkan kontak langsung dari anaknya Lydia (Erin Moriarty) yang menelepon dirinya, namun bukan kabar baik yang ia terima ternyata anaknya berada dalam situasi berbahaya yang mengancam keselamatan nyawanya karena keterlibatan dirinya atas pembunuhan serta menyeretnya pada organisasi kriminal berbahaya yang ingin membunuhnya. Karena berusaha menyelamatkan anaknya dari mara bahaya serius Link akhirnya terpaksa memutuskan kembali terjun di dunia yang seharusnya baru saja ia tinggalkan.

Buat saya cukup disayangkan tatkala film yang di usung oleh sutradara Jean-François Richet ini tidak cukup popular dan terkenal diantara film action lainnya, pengecualian jika yang bermain tidak lain semacam Jason Statham atau Vin Diesel sekalipun meski film solo mereka kadang tidak sebagus yang diharapkan setidaknya masih diminati kebanyakan orang. Blood Father justru mengusung genre action-thriller yang terasa sangat gritty dan intense. Adegan action film ini tampak membabi buta dengan dipenuhi segolongan orang-orang bertampang sangar, bertato dan liar yang siap mengajak Mel Gibson dan Erin Moriarty terpacu adrenalin dengan sangat keras. Meski tipikal film ini mengajak kita hit and run, tapi dengan screenwriter Peter Craig dan Andrea Berloff yang sebenarnya sederhana ini, Jean tidak membuat ceritanya sendiri melempem dan justru dipenuhi sebuah hubungan emosional drama keluarga. Sedari film ini berjalan kita telah dibekali dengan segudang pertanyaan sebab-alasan Lydia terlibat dengan kekasihnya Jonah (Diego Luna) yang masih menyimpan misteri siapa dirinya yang nantinya akan dijawab segmented dengan kebenaran yang sangat pelik dan mengejutkan.

Selain itu untuk bagian aktingnya sendiri punya profit bagus yang mampu diperankan oleh Mel dan Erin yang terhubung dengan chemistry yang kuat sebagai father-daughter, dengan hubungan yang pada awalnya terasa canggung dan kaku. Tapi, seiring cerita berjalan hubungan mereka berdua justru terlihat makin kuat. Ada Link dengan perawakan kasar dengan kehidupannya yang gelap, bahkan sosoknya diperkuat dengan koneksinya dengan seorang 'preacher' (Michael Parks) dari kalangan dan pendukung neo-nazi, hingga seorang sahabat baiknya di penjara bernama Arturo Rios (Miguel Sandoval). Namun, tampak lembut dan ramah akan kehidupan barunya bahkan saat ia memiliki seorang sahabat sekaligus sponsornya, Kirby (William H. Macy). Dan Lydia pun cukup mampu mengimbangi karakter anak yang kehilangan peran orang tua, fearfulness, namun sebetulnya tampak bertindak untuk melindungi dan menyayangi juga ayahnya meski kerap kali ia kurang terlihat beruntung dan pintar memutuskan sesuatu. Ya, disini pun saya sesungguhnya masih melihat juga figur seorang ayah yang bukan saja soal pasang badan dan berkorban nyawa untuk anaknya, disini saya pun menemukan masih adanya hubungan moral saat Link yang masih menasehati Lydia dengan cara pandang hidup, pergaulan serta caranya dalam mengambil keputusan dengan cara yang lebih dewasa.

Well, Blood Father cukup memuaskan, ketegangan yang dibangun serta bagian action dan pengembangan chemistry father-daughter ini terasa kuat dan menghibur. Meski saya cukup menyayangkan cerita yang buat saya sendiri sebetulnya masih bisa dikembangkan menjadi lebih rumit dengan konflik lebih mendalam, tapi keputusan cerita yang memang sudah dibuat sedemikian rupa terasa antiklimaks. Ya, karena pada dasarnya sedari awal Jean dan penulis naskahnya bertujuan untuk memperlihatkan sosok pria yang baru mendapatkan kebebasan dan hidup lebih baik, tapi karena demi melindungi dan menyayangi anak kandungnya sendiri rela menyerahkan segalanya bahkan hidupnya sendiri yang lebih relevan sebagai film yang memancing emosi penonton dengan drama kehidupannya yang menyentuh dari caranya yang gritty ketimbang sebuah tontonan action-thriller penuh dengan adegan tembak-menembak yang jauh lebih gila dan abnormal.

πŸŽ₯ Director | Jean-FranΓ§ois Richet
πŸŽ₯ Writer | Peter Craig, Andrea Berloff
πŸŽ₯ Cast | Mel Gibson, Erin Moriarty, Diego Luna, William H. Macy, Michael Parks
πŸŽ₯ Rating | R (for strong vioelnce, language throughout and brief drug use)
πŸŽ₯ Runtime | 88 minutes (1h 28min)



OFFICIAL RATING | BLOOD FATHER (2016)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes
"Iron Man sucks."

REVIEW:

Terkadang saya cukup tergelitik dengan fakta belakangan soal film DC yang cukup banyak merasakan lika-liku menggapai kesuksesan mereka secara kualitas dinilai inferior. Yap, ini bukan soal kesuksesannya yang cukup positif dalam hal menumpuk pundi-pundi dollar, contoh terakhirnya film Suicide Squad yang berhasil meraup keuntungan kotornya $325,021,779 tapi dicap kelewat buruk dalam penggalian karakter dan cerita yang repetitif. Sejarah kelam pendek DC ini sekelam film-film mereka yang cukup tertular oleh Christopher Nolan lewat The Dark Knight.

Mencoba lebih berwarna dengan komedi sebagai usaha perbaikan tone gelap mereka yang kelewat kental dengan sedikit pemanis. Dan tentunya menggaet teknik pemasaran baru dan anti-mainstream, DC sepertinya tak kehilangan akal keluar dari zona amannya untuk bisa menyaingi kompetitornya, Marvel. Dan tentu saja The Lego Batman Movie menjadi sebuah daya tarik berbeda dari film-film DC sebelumnya dengan menculik kesuksesan mainan buatan milik Ole Kirk Chiristiansen. What's a good news if we knew the Lego Movie's franchise was the great movie will come to win in The Lego Batman Movie?

Dengan tetap masih mengambil karakter Batman yang pernah kita temui di film The Lego Movie, menonton film The Lego Batman Movie ini ibarat menonton sebuah film batman yang diparodikan sebagai kartun animasi, sejak embel-embel logo ciri khas Warner Bros dan DC ini muncul sebelum film dimulai yang secara mengejutkan batman dengan suara berat ciri khas-nya tersebut membuat guyonan pada serangkaian awal film bahkan saat layar masih dalam mode black screen. Dan tidak kurang dari semenit hingga tiap-tiap menit film berlanjut yang dipegang oleh Chris McKay yang sekarang berperan seorang diri di bangku sutradara sudah menyajikan guyonan dan lelucon tanpa henti.

Tentu saja guyonan dan lontaran komedi tersebut datang dari berbagai hal, dan kebanyakan termasuk guyonan yang bersifat cibiran dan offensif yang datang dari mulut Batman sendiri yang tidak sedikit menyinggung beberapa tokoh karakter DC, bahkan salah satu karakter fenomenal Marvel sempat disindir dengan cukup menantang, seolah memang antara DC dan Marvel sedang melakukan perang dingin. Referensi segar dengan banyolan ala lego ini pun masih cukup cerdas dan bukan hanya sebagai komedi tanpa arah, tapi juga terdapat selingan nostalgia tentang pop culture film Batman dari masa ke masa yang muncul sebagai guyonan yang terus-menerus memancing tawa.

Dan tentu saja seperti film lego sebelumnya yang begitu bebasnya menjadi sebuah universe tanpa batas termasuk mengada-adakan sebuah karakter franchise besar film lain sebagai referensi tak masuk akal dan bahkan diluar nalar yang asalnya dari imajinasi seorang anak kecil yang bermain di atas sebuah papan meja milik ayahnya, seperti kita tahu kegilaan bahkan keabsurdan film Lego tetap mampu memberi tawa konstan dari awal hingga akhir. Dengan referensi liar dan gila ini memang Seth Grahame-Smith, Chris McKenna, Erik Sommers, Jared Stern dan John Whittington yang beramai-ramai menjadi penulis naskah punya keberanian membawa tingkatan yang sama dengan pendahulunya yang sangat berhasil membuat saya tergila-gila dengan The Lego Movie.

Ya, memang film ini hampir memiliki semua kesenangan yang saya harapkan seperti yang film pertama lakukan, tapi sayangnya tidak semua lelucon film ini mampu saya terima dan terlampau kelewat batas dan berlebihan membuat ekspetasi saya dari awal baik-baik saja lalu menguap perlahan. Seperti perkataan awal saya bahwa The Lego Batman Movie ibarat seperti film parodi yang di animasikan, hanya saja dengan kualitas visual dan bobot referensi yang epic dan lengkap, justru aksi yang menuntut pada ke superhero-an batman dan juga relasi antar tiap karakter baik villain dan regu superhero lainnya terlalu absurd untuk diterima. Seperti tuntutan seorang Joker yang ingin dianggap oleh Batman buat saya terlalu kekanak-kanakan dan menciderai momentum psycho yang saya dapat dari berbagai referensi film sebenarnya soal Joker, meski saya memandang film ini memang tampak sebagai warna baru dari film yang selama ini gelap yang mungkin sebagian bisa menerima tapi sebagian juga tidak, hingga momentum terakhir klimaks yang juga menurut saya terlalu lebay dan aneh.

Mengangkat tema tentang arti keluarga, cinta dengan balutan kemurungan dan rasa trauma yang dialami alter ego Bruce Wayne dengan masa lalunya, film ini memang cukup ditolerir bagaimana ia sanggup mengangkat kisah superhero ini lebih dalam sepanjang sepak terjang dan sejarah kita mengetahui entah secara detil maupun sederhana sosok kelelawar tersebut. Dibalik bayang-bayang kehidupan mewah dan kaya raya, terselimuti sesuatu yang selalu menohok tentang sebab dari Bruce Wayne yang penyendiri serta letak kerapuhannya sendiri. Hingga bagaimana ia berada ditengah masyarakat kota Gotham dan eksistensi dirinya sebagai vigilant bagi hukum negara. Bahkan sosoknya diantara superhero, villain bahkan orang-orang terdekatnya yang cukup akrab bagi kita. Well, ini mungkin bukanlah film yang sebagus ekspetasi saya dengan film pertamanya, tapi ia masih memiliki timbunan referensi cerita yang tidak sembarangan dibuat dan ditata semenarik mungkin, yang dibalut dengan komedi segar dan tingkat absurditas tinggi tanpa henti yang tentunya jika kamu bisa menerimanya tanpa berat hati.
 
πŸŽ₯ Director | Chris Mckay
πŸŽ₯ Writer | Seth Grahame-Smith, Chris McKenna, Erik Sommers, Jared Stern, John Whittington
πŸŽ₯ Studio | Warner Bros. Pictures
πŸŽ₯ Rating | PG (for rude humor and some action)
πŸŽ₯ Runtime | 104 minutes (1h 44min)



OFFICIAL RATING | THE LEGO BATMAN MOVIE (2017)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes
"You were one of my favorites."

REVIEW:

Cukup mengejutkan melihat hasil rating rottentomatoes memberi nilai film ini dengan angka 99% (almost perfect!) dan disaat yang sama pun ternyata film yang disutradarai oleh Jordan Peele, kalau kamu ingat ia aktor yang pernah berduet akting dengan Keegan-Michael Key di film Keanu (2016). Get Out adalah film debutannya sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, mampu bertengger di tangga teratas box office dengan raupan pendapatan opening weekend sebesar $33,377,060. Wow! angka-angka yang sangat fantastis untuk sebuah film debutan, bukan? Terus apa yang membuat film yang hanya bergenre horror-comedy ini sanggup meraih baik pendapatan dan kritikan positif yang bahkan di situs metacritic yang sangat pelit angka mampu memperoleh angka 84, menjadi film yang sangat antusias tahun ini? mari kita simak ulasannya.

Chris Washington (Daniel Kaluuya) seorang pria kulit hitam yang baru menjalin hubungan dengan kekasihnya seorang gadis kulit putih bernama Rose Armitage (Allison Williams), mereka berencana pergi menghabiskan akhir pekan mereka untuk mengunjungi sekaligus memperkenalkan kedua orang tua Rose pada Chris. Meski dengan sedikit rasa ragu dan khawatir tidak diterima orang tua pacarnya tersebut sehubungan perbedaan ras dan warna kulit, tapi akhirnya dengan memastikan bahwa kedua orang tuanya adalah orang yang baik, akhirnya mereka berdua pergi dan bertemu dengan ayahnya Dean Armitage (Bradley Whitford) dan ibunya Missy Armitage (Catherine Keener) dengan sambutan hangat dan ramah oleh kedua orang tuanya itu. Tapi, hal tersebut tidak berlangsung lama sampai akhirnya Chris menyadari ada gelagat aneh yang terjadi di rumah dan keluarga tersebut.

Get Out memang bukan sekedar film horror biasa, yang menjelma menjadi sebuah horror-comedy yang mampu menyisipkan isu rasisme di tengah cerita yang sangat-sangat berbeda dari yang pernah kita tonton sebelumnya. Hebatnya hal tersebut ternyata bukan tempelan semata yang dibuat oleh Jordan Peele terasa jauh dari kata dangkal. Ia betul-betul mampu melibatkan isu tersebut justru sebagai inti cerita film ini yang memang tak bisa dipisahkan dan melekat antara keduanya. Film ini sangat kontras, antara kulit hitam dan juga kulit putih, dan tentu saja hal yang patut menjadi moment trigger adalah saat insiden seekor rusa yang tiba-tiba melintas dan menabrak mobil Chris dan Rose, lalu disusul polisi yang datang membantu mereka yang justru timbul konflik kecil sebagai moment dimana kita tahu inti permasalahan film ini berasal, sehingga kita seolah tahu bahwa isu rasisme dalam dunia modern ini memang seolah tak pernah habis dan segelintir orang tetap mempermasalahkan perbedaan ras sebagai tolak ukur keburukan dan diskrimansi terhadap beberapa kaum atau ras.

Ya, moment itu hanya sebagian kecil yang disusul oleh beberapa misteri yang menghubungkan hal-hal tersebut dengan beberapa fakta tersembunyi samar-samar namun pasti tetap dicapai. Misteri-misteri yang bergeser pada moralitas dan perlakuan terhadap kaum kulit hitam yang mampu ditampilkan sangat berbeda dari pengalaman saya menonton film-film yang mengedepankan rasisme pada zaman dulu yang jauh lebih heartless semacam 12 Years a Slave. Get Out tampak berusaha lebih halus seraya menampilkan sosok bersahabat namun tampak tetap tidak meninggalkan sisi ketidakmanusiaannya.

Selain dari isu yang menjadikan film ini tampak punya nyawa sebagai inti cerita yang memang jadi kekuatan film ini, ternyata beberapa elemen seperti persentasi, misteri, keunikan cerita, dan tentu saja diantaranya dua hal magis yang mampu di-mixing menjadi satu antara atmosfer intensif dan komedi gelap ala Jordan Peele ini berhasil menjadi santapan film yang sangat lezat. Sejauh film ini berjalan Get Out mampu membuat atmosfer yang tak henti-hentinya membuat tanda tanya dan ambigu atas apa-apa yang terjadi sepanjang film, selama beberapa moment jump-scare yang mengiringi timbal balik kisah yang semakin lama terasa semakin absurd dan mengganggu. Gangguan dan rasa aneh yang timbul dari tatapan, kata-kata dan hingga perilaku-perilaku abnormal yang kadang terekspresikan dengan baik oleh Daniel Kaluuya, bahkan hingga seringai dan ekspresi tak ikhlas Georgina (Betty Gabriel) ini terasa fresh, hingga tampak begitu sederhananya cerita yang dibuat semakin jelas bahwa semakin kita terdorong pada jebakan-jebakan dan sisi cerita yang semakin manipulatif ini semakin jelas pula kelakuan dan hal-hal aneh yang terjadi sepanjang film ini dijawab dengan satu tendangan yang konklusif.

Selain itu keberanian dan kemampuan Peele yang tampak berani mengambil moment-moment komedi yang tersisipkan pada tiap-tiap kemunculan Rod Williams (Lil Rel Howery) teman baik Chris sebagai steal scene sama sekali tidak mengganggu tensi dan atmosfer dark yang telah dibangun. Justru beberapa moment yang kebetulan lucu baik dari Rod dengan perkataan-perkataan bahkan tidak sedikit mengatakan soal perbudakan seks yang notabene entah sebagai senda gurau atau prasangka dan juga tindakan-tindakan yang ia lakukan, meski ia adalah orang yang berada diluar konteks cerita. Ia adalah penyeimbang dimana atmosfernya tidak terjerembab menjadi tenggelam dalam gelap.

Well, inilah jawaban bahwa Get Out telah berhasil menjadi film horror terbaik bahkan mungkin menjadi salah satu film terbaik tahun ini. Memandang meski adegan slasher dan sadisnya tidak terlalu bloody-hell, tapi apa yang ditawarkan antara kegilaan, weirdness, atmosfer, motif dan cerita film ini patut diancungi jempol. Selain itu juga tak lupa antara halus dan tajam, Peele tetap membawa kamuflase isu rasisme yang saya pandang sebagai isu rasisme modern. Memandang ia tampak halus dan lembut dengan perbedaan  ras tapi tetap mampu menampilkan sisi yang tetap tidak berkemanusiaan sebagaimana hal tersebut bisa tercermin ditengah masyarakat modern. Dan dibalik timbulnya rasa takut dan kecemasan disertai gangguan atmosfer aneh, Peele juga tetap menyuntikkan sebuah komedi atraktif yang eksis namun tanpa mengganggu dan meruntuhkan sedikitpun atmosfer horror film tersebut.

πŸŽ₯ Director | Jordan Peele
πŸŽ₯ Writer | Jordan Peele
πŸŽ₯ Cast | Daniel Kaluuya, Allison Williams, Bradley Whitford, Catherine Keener, Caleb Landry Jones, Betty Gabriel
πŸŽ₯ Studio | Universal Pictures
πŸŽ₯ Rating | R (for violence, bloody images, and language including sexual references)
πŸŽ₯ Runtime | 104 minutes (1h 44min)



OFFICIAL RATING | GET OUT (2017)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes
"Because that's the only way one could hope for a cure."

REVIEW:

Melihat gelagat trailer film ini pertama kali, saya sudah ngerasa hype sendirian dan langsung mematok film yang disutradarai Gore Verbinski (Pirates of the Caribbean: the Black Pearl, The Lone Ranger) sebagai salah satu film antisipasi di tahun ini tatkala karena genre film ini bertajuk dark experimental dengan segala tetek bengek aksi dan garapan teknik visualnya yang tampak sangat intens dan inventive. Dari kesan cerita dan daya tariknya yang unik dan suram ini tampak menjanjikan bahwa mungkin film ini berujung pada kengerian, full of gory and bloody-flesh tentang eksperimen tubuh manusia secara sangat mengerikan seperti tampak di trailernya terdahulu. Tapi, apalah daya semua memang tampak luar biasa secara visual dan sinematis, saat hal-hal itu terbukti penuh dengan puluhan kekurangan sepanjang film yang ternyata durasinya saja sudah 146 menit berjalan!!?

Seorang pegawai eksekutif muda yang ambisius bernama Lockhart (Dane DeHaan) mendapatkan tugas dari sebuah perusahaan keuangan yang saat itu mengalami krisis besar yang berdampak besar bagi perusahaan bahkan untuk karirnya sendiri, untuk menjemput CEO perusahaan tersebut, Mr. Pembroke yang telah pergi selama 2 minggu ke sebuah tempat bernama "wellness center" misterius di pegunungan Alpen, Swiss. Tapi, sesampainya disana Lockhart mulai mendapatkan gerak-gerik mencurigakan dari tempat tersebut hingga ia pun terpaksa ikut terjebak disana dan akhirnya menemukan tujuan rahasia gelap dibalik tempat pengobatan tersebut.

Berjalan dengan durasinya yang sangat lama, menurut saya film ini memang bukan film yang membosankan melihat pentas visualnya yang heboh bak memberikan inovasi cerita penuh intrik, ketegangan dan misteri kotor yang menyelimuti perjalanan cerita dari buah pena Justin Haythe sebagai screenwriter. Ya, mengikutinya dengan durasi selama itu mungkin cukup melelahkan, tapi syukurnya memang karena film ini bergenre mistery-thriller, salah satu favorit saya. Hanya saja ketika film ini berakhir, saya akhirnya hanya memberi satu kalimat pendek, "this is full of bullsh*t!". Jelas sekali film ini ternyata penuh bualan semata, hanya mencoba sok pintar, tegang dan kompleks, tapi nyatanya sepanjang durasinya yang kelewat lama, saya tidak menemukan begitu banyak koneksi kuat pada tiap-tiap plot cerita yang melebar kesana kemari.

Pada awalnya memang film ini tampak menawarkan begitu banyak misteri intens yang sangat dark, gloomy dan tak lupa beberapa sekelumit latar belakang Lockhart bersama ibu dan ayahnya yang nampak suram dan menyedihkan. Lalu, perusahaan tempat ia bekerja bersamaan dengan permasalahan yang yang diceritakan sedikit demi sedikit seiring pertemuan Lockhart dan Pembroke di wellness center. Tapi, justru seakan saya percaya bahwa semua tumpukan cerita pada kompleksitas masalah karakter utamanya, yang tidak hanya membuat ia terseret di tempat yang seakan indah namun penuh rencana busuk dan laknat, ternyata semua hanya kiasan cerita yang tak nyambung dengan konklusi utama. Semua yang saya kira bakal punya peranan dalam perkembangan cerita dan tali benang merah pun justru hanya sekedar tempelan cerita tak penting alias penuh dengan plot hole.

Dan parahnya lagi, film ini terlalu predictable dan twist-nya gampang ditebak hanya dengan menonton separuh awalnya saja. Semua terasa dangkal, meski ia terus-menerus menggebuk penonton seiring Lockhart membongkar satu persatu misteri dan juga terkait hubungan gadis muda innocent misterius Hannah (Mia Goth) dan Dr. Heinrich Volmer (Jason Isaacs), tapi sayang seribu sayang tak sedikitpun mampu membangun konklusi dengan lebih kuat, malah yang terjadi setelah film ini berakhir ia malah menimbulkan ribuan pertanyaan dibenak saya dan bukan mendapatkan twist klimaks memuaskan yang terungkap sejak awal. Semua hanya sekedar misteri acak tanpa konklusi yang kuat dengan semua kelemahan, baik eksekusi cerita, dialog naskah, hingga berujung durasi yang sebetulnya jauh lebih baik diringkas dan membuang semua plot hole yang terlalu jelas tidak berguna.

Selain itu untuk akting Dane DeHaan sendiri, sebagai cast utama saya relatif melihat aktingnya biasa saja disini dan malah jika melihat perannya belakangan Dane suka menunjukkan ekspresi dan tampang orang depresif dan tidak meyakinkan. Meski saya sendiri berharap ia punya dedikasi lebih baik disini, tapi ternyata aktingnya sama terpuruknya dengan perannya yang lain, entah apa yang menjadikan seorang Lockhart yang diperankannya disini tampak ingin menunjukkan sifatnya yang obsesif yang justru tampak kosong, justru karakternya disini tampak ceroboh, terlalu penurut, linglung dan buruknya lagi ia tampak mudah dimanipulasi oleh antagonis-antagonis disini, contohnya saat ia mau-maunya tanpa menaruh curiga dijadikan kelinci percobaan eksperimen Dr. Heinrich. Membuat saya sendiri menjadi kurang peduli lagi saat ia terperangkap dalam situasi sulit bahkan saat dia dalam bahaya sekalipun.

Tapi, dengan semua kekurangan tersebut, seperti saya bilang bahwa visual dan sinematik arahan Verbinski memang terasa sangat menawan. Dengan konten ala rumah sakit yang suram dan misterius sebenarnya ia sudah mengangkat tema film ini dengan sangat menarik. Ibarat saya sedang menonton antara gabungan cerita film "Shutter Island" dan style sinematik ala Chan-Wook Park. Beberapa adegan mungkin dihidangkan masih terasa creepy-unique, hingga scene-scene so weird, saat Lockhart sedang berada dalam tabung air raksasa, dan kemudian seorang perawat datang menghampiri seorang dokter, and what the hell are you doing!? dan juga tidak lupa momen ketika gigi Lockhart dilubangi, Wow! meski adegan tersebut tidak berlangsung lama dan justru menambah tanda tanya akan kelakuan bodoh tak relevan hadir sebagai muatan absurditas di film ini.

πŸŽ₯ Director | Gore Verbinski
πŸŽ₯ Writer | Justin Haythe
πŸŽ₯ Cast | Dane Dehaan, Mia Goth, Jason Isaacs,
πŸŽ₯ Studio | 20th Century Fox
πŸŽ₯ Rating | R (for disturbing violent content and images, sexual content including an assault, graphic nudity, and language)
πŸŽ₯ Runtime | 146 minutes (2h 26min)



OFFICIAL RATING | A CURE FOR WELLNESS (2017)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes
"Only love will truly save the world."

REVIEW:

Wah! ga nyangka sudah lama sekali saya tidak membuat artikel dan review film setelah 3 bulan rehat, padahal maunya cuman sebentar aja tapi rupanya semakin lama saya istirahat malah membuat saya semakin berat dan malas menulis blog lagi. Dan akhirnya blog ini nganggur selama 3 bulan lebih. Tapi at last, saya niatkan diri kembali membuat artikel blog film lagi meski nantinya tulisan ga sebagus dulu karena sudah lama tidak melatih menulis. Nah, sementara ini saya bukan mau curhat tentang masalah itu dan lupakan sejenak, tapi disini saya mencoba membuka kembali review film yang sudah lama terbengkalai dan tak terurus hingga akhirnya ada satu review film yang mungkin cukup menarik dan membuat saya tertarik kembali untuk memberikan ulasan terhadap film, ya film apalagi selain film yang pasti membuat interest bagi penduduk laki-laki terutama saya, haha... ya, tidak lain adalah Wonder Woman yang diperankan oleh seorang artis cantik dan mantan model dari Israel, Gal Gadot.

Melihat track record DCEU (DC Extended Universe) yang sering gagal melampaui ekspetasi dan rasa puas fans dan penonton hingga berujung kegagalan BvS dan Suicide Squad pada masa itu, kecuali The Dark Knight trilogi nya Nolan. Akhirnya kebuntuan proyek DC dibayar lunas dan diselamatkan oleh figur wanita. Tidak tanggung-tanggung bahwa yang menyelamatkannya bukan cuman satu wanita tapi dua, pertama dibalik layar, sang sutradara Patty Jenkins dan didepan layar, sang pemeran utama Gal Gadot. Entah apa yang dipikirkan oleh DC sehingga mau mendapuk Jenkins yang notabene lebih mengarah pada genre ciri khas-nya yaitu drama seperti "Monster" dan menangani beberapa episode drama TV Series. Tapi, nyatanya keberuntungan berpihak pada film ini setelah 141 menit saya akui tak ada rasa bosan dan saya pun sangat terhibur dengan cerita solid dengan beberapa bumbu komedi di dalamnya.

Ya, meski kesolidan cerita Wonder Woman sendiri cukup tersandung oleh beberapa mekanisme cerita yang terbilang biasa saja, ditambah ketidakmampuan Patty menangani masalah teknis yang cukup serius kurang membangun ketegangan dan daya tarik efek visual dan CGI dengan lebih seru dan menantang layaknya Zack Synder atau Michael Bay. Tapi, justru sebaliknya apa yang tidak bisa dibangun oleh mereka berdua bisa ditangani dengan cara yang jauh lebih baik oleh Jenkins yang mampu mengeluarkan seluruh daya tarik seorang Gal Gadot yang terbungkus menjadi seorang wanita feminis tapi perkasa sang 'princess of the Amazons', Wonder Woman aka Diana dari keseluruhan eksistensinya yang tidak sekedar menjual tubuh sensual dan kecantikan. Dengan tema yang sudah pasti bisa berujung pada cerita maskulin ini mampu di pukul sama rata bagaimana seorang wanita mampu eksis ditengah-tengah dunia keras dan kejamnya pria.

Ketangguhan seorang Diana terpancar karena aura meyakinkan dari seorang Gal Gadot yang buat saya pribadi dia betul-betul pantas memerankannya. Disini Jenkins meyakinkan bahwa superhero bukan sekedar kuat atau mampu mengalahkan musuh atau orang jahat sekali pukul, tapi bagaimana cerita mengalir menggunakan hati dan emosi seorang Diana, cerita bergulir dari ketangguhan dan keberanian yang dimiliki seorang Wonder Woman sejatinya adalah orang yang tidak memahami dunia luar, eksis dalam keterasingan dan buta akan dunia, tapi mampu mempengaruhi dengan cara yang sangat aneh namun beautifully enchanting. Dengan latar perang dunia II, beralaskan dunia penuh penderitaan dan kekelaman Wonder Woman bukan cuman memproses dirinya menjadi lebih kuat secara fisik dengan daya tahan tubuh bak Superwoman yang bahkan dijuluki dengan julukan seram "godkiller", tapi juga kuat secara personal emotion yang dipadukan keberanian, kepercayaan dan kelembutan dalam dirinya.

Another charming, selain dari daya tarik kecantikan dan pesona Gal Gadot tidak lupa bahwa setiap superhero selalu didampingi oleh love interest-nya sendiri yang diperankan oleh cukup apik dan sama-sama mempesona yang selalu berada disamping Diana, Chris Pine aka Steve Trevor. Meski tampang Chris Pine yang lebih cocok sebagai playboy urakan nan tampan, aktingnya disini terasa canggung dan konyol. Harus saya akui sendiri sebelum awalnya menonton film ini duet antara Gadot dan Pine terasa menjanggal antara chemistry mereka satu sama lain, hingga akhirnya ekspetasi itu terpatahkan dengan sendirinya. Mereka ternyata lebih dari sekedar hubungan romantis nan klise, mereka muncul bagaikan dua tonggak berdirinya cerita Wonder Woman. Dari sekedar pertemuan dan peristiwa tak sengaja, lalu awkward moment, percakapan lucu dan nakal, hingga bentrokan kepercayaan yang bersifat dogmatis antara mereka berdua.

Well, setiap adegan dan cerita mungkin terasa biasa saja bahkan nuansanya mungkin sudah predictable bagi beberapa penonton (bahkan villain sendiri terbilang nothing special). Dengan asal muasal cerita yang berasal dari karangan Zack Synder sendiri beserta dua partnernya Allan Heinberg dan Jason Fuchs, tentu saja saya masih tetap kurang menyukai apa yang dihasilkan oleh cerita ciri khas miliknya itu, sehingga Patty Jenkins sendiri yang awam dengan film semacam ini saya sangat memberikan pujian setinggi langit pada dirinya dengan kemampuannya menangani dan menterjemahkan cerita standard Synder menjadi cerita yang solid dan penuh dengan moralitas kemanusiaan. Dan juga meski diperankan oleh seorang wanita sebagai figur utama cerita tapi film ini bukan tentang feminisme atau semacamnya, tapi menyikapi stereotipe mungkin masih menjadi udara segar bahwa gender wanita bisa jauh lebih hebat dan jauh lebih memikat dari superhero pria pada umumnya, dan Wonder Woman mengobati luka hati fanboys DC dan audience lainnya.

πŸŽ₯ Director | Patty Jenkins
πŸŽ₯ Writer | Austin Wright (novel), Allan Heinberg, Jason Fuchs
πŸŽ₯ Cast | Gal Gadot, Chris Pine
πŸŽ₯ Studio | Warner Bros. Pictures
πŸŽ₯ Rating | PG-13 (for sequences of violence and action, and some suggestive content)
πŸŽ₯ Runtime | 141 minutes (2h 21min)

Rating: 4.0
SCORE 80 | Nocturnal Animals

--------- [WHAT THE FACT!] ---------

-------------------

OFFICIAL RATING | WONDER WOMAN (2017)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes
Nocturnal Animals (2016)
"When you love someone you have to be careful with it, you might never get it again."

REVIEW:

Setiap orang punya caranya sendiri untuk mengungkapkan rasa sedih dan rasa luka di hatinya. Secara umum orang akan beranggapan bahwa kesedihan bisa diungkapkan hanya dengan air mata, tapi mungkin juga tidak. Pengungkapan rasa sedih dan terluka juga bisa diungkapkan melalui kata-kata maupun tulisan. Seperti apa yang ditunjukkan Nocturnal Animals di film ini, antara percampuran drama melodramatis dan psikologi thriller. Mungkin saya akan sedikit membeberkan *SPOILER* untuk mengetahui usaha apa yang coba diungkapkan sutradara Tom Ford yang kisahnya sendiri diadaptasi dari novel karya Austin Wright berjudul "Tony and Susan". Jadi, jika tidak ingin mendapatkan bocoran film ini sebaiknya tidak melanjutkan membaca ulasan saya kali ini.

Jika menyerempet tentang kesedihan, Nocturnal Animals mengeksplisitkan secara tragis dan esktrim yang dikemudikan dengan cara penceritaan non-linier dan kompleks. Jika, saya menyebutnya kompleks sebetulnya film ini cukup sederhana, hanya saja film ini menceritakan dua sudut pandang yang berbeda. Pertama, Susan Morrow (Amy Adams) seorang wanita kaya dengan kelas sosial yang tinggi sebagai pecinta karya seni yang memiliki sebuah art gallery, suatu hari Susan dikirimi sebuah manuscript novel berjudul "Nocturnal Animals" oleh mantan suaminya Edward Sheffield yang dulu ia tinggalkan kurang lebih 20 tahun lalu dan meminta dirinya kembali membaca karya suaminya tersebut. Kedua, Tony Hastings (Jake Gyllenhaal), pria yang diceritakan dalam novel fiksi Edward yang dideskripsikan sebagai dirinya sendiri, yaitu pria yang berencana melakukan liburan bersama istrinya Laura Hastings (Isla Fisher) dan anak perempuannya India Hastings (Ellie Bamber) mengalami kejadian tragis ditengah jalan yaitu pemerkosaan serta pembunuhan anak dan istrinya oleh sekomplotan orang tak dikenal yang dipimpin oleh pria yang dikenal dengan nama Ray Marcus (Aaron Taylor-Johnson).

Apa yang saya tangkap dalam film ini memang memberikan saya cukup multitafsir setelah menontonnya, karena melihat apa yang dilakukan oleh Edward mengirimkan novel tersebut kepada mantan istrinya sendiri cukup memberikan ambiguitas, apalagi setelah di akhir film ini pun sepertinya memang sengaja membuat penontonnya bertanya-tanya dan tidak memberikan penjelasan yang jelas (Apakah ia melakukannya untuk rujuk, teror, atau sebuah tujuan tersembunyi). Kecuali hal yang paling umum untuk disimpulkan memang tujuan Edward yang kita rasakan dan tangkap dari caranya menceritakan isi novelnya tersebut untuk mengungkapkan kepada mantan istrinya tentang kesedihan, kehilangan, penderitaan dan kelemahan yang digambarkan dari karakter Tony yang terjadi juga pada dirinya sendiri.

Juga bagaimana respon Susan yang sesekali membaca novel tersebut semakin tenggelam, membuat kondisi pikiran dan psikisnya terganggu lalu membuatnya kembali terbayang masa lalu kelamnya bersama Edward. Yang sedikit demi sedikit tabir kehidupan gelap dan buruk yang Susan alami semakin terang, berhasil membolak-balikkan pikiran dan simpatik penonton dan membuat serpihan dari rasa sakit dan kepahitan yang dalam baik yang dialami oleh Edward maupun Tony semakin membuat penonton merasakan ambigu.

Dua serpihan cerita yang dibagi dua ini memang terasa pakem dikedua sisinya, baik cerita Susan bersamaan kisah masa lalu dan juga kehidupannya sekarang. Dan juga cerita tragis yang dialami oleh Tony sebagai kisah "story in a story" sebagai sebuah kisah eksplorasif yang memilukan. Yang keduanya sama-sama mampu saling berkaitan satu sama lain yang membuat kehidupan Edward aka Tony sama-sama memberikan penderitaan yang hampir sama. Bahkan dari sisi kekejamannya pun hampir sama yang satu sisi dilakukan secara halus dan satu sisi dilakukan secara ekstrim, membuat akting Jake Gyllenhaal pun terasa sangat menyedihkan, lemah dan rapuh.

Untuk beberapa aspek yang ditonjolkan oleh Tom Ford dalam film ini pun cukup saya puji, baik untuk akting pemerannya, tata visual, tata busana dan juga tata rias. Darkly toned dan tata rias make up sudah cukup memberi kesan kelam cukup mencuri perhatian, dengan beberapa penyorotan lukisan-lukisan dan beberapa objek seni surealis bahkan telanjang, dan juga aktor dan artis yang berakting sangat luar biasa, apalagi tokoh tak disangka-sangka Bobby Andes (Michael Shannon) yang berperan sebagai polisi detektif yang membantu Tony menangkap pembunuh istri dan anaknya pun cukup memberi atensi sebagai polisi jujur dan badass yang berusaha memperjuangkan keadilan ditengah carut marutnya peristiwa dan permasalahan yang terjadi secara internal maupun ekstenal. Dan juga Aaron Taylor-Johnson yang aktingnya "out of the box", semacam kriminal sakit jiwa yang aktingnya disini seperti as*hole-man.

Well, film ini sebetulnya memiliki begitu banyak bagian yang sangat bagus dan sangat ok sebagai film drama thriller yang membuat kita terseret dalam kesedihan dan rasa sakit yang dialami oleh dua tokoh yang mengalami hal yang hampir sama yang ceritanya bergerak secara non-linier. Walau memang saya sedikit menyayangkan konklusi akhir yang memang tidak banyak membantu pakem cerita yang kuat diawal menjadi terasa mengambang dan kurang eksploitatif. Tapi, saya cukup terhibur apalagi jajaran cast dalam film ini pun sudah memberikan perannya secara maksimal, apalagi adegan pembukaan yang memang cukup memberi elemen ketegangan dan teror sekaligus intimidasi psikologis ini sudah cukup membawa saya pada tingkat cerita tragedi yang mengerikan, menyayat hati sekaligus compelling.

πŸŽ₯ Director | Tom Ford
πŸŽ₯ Writer | Austin Wright (novel)
πŸŽ₯ Cast | Amy Adams, Jake Gyllenhaal, Michael Shannon, Isla Fisher, Aaron Taylor-Johnson, Ellie Bamber
πŸŽ₯ Studio | Focus Features
πŸŽ₯ Rating | R (for violence, menace, graphic nudity, and language)
πŸŽ₯ Runtime | 115 minutes (1h 56min)

Rating: 4.0
POSTER: Nocturnal Animals (2016)
SCORE 80 | Nocturnal Animals

--------- [WHAT THE FACT!] ---------

-------------------

OFFICIAL RATING | NOCTURNAL ANIMALS (2016)
Rating Film IMDB

Rating Film Rottentomatoes